Tampilkan postingan dengan label TNI-AU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI-AU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2011

T-50 Perkuat TNI AU Pada Tahun 2012



T50 Golden Eagle milik Angkatan Udara Korea (photo : Buffalo79)
Jakarta (ANTARA News) - TNI Angkatan Udara segera diperkuat satu skuadron atau 16 pesawat T50 Golden Eagle dari Korea Selatan tahun depan, untuk meningkatkan kemampuan para penerbang matra udara, kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat usai peringatan ke-65 TNI Angkatan Udara di Jakarta, Sabtu.
Imam Sufaat menambahkan, pengadaan pesawat tersebut merupakan salah satu program pengembangan kekuatan TNI Angkatan Udara hingga 2024 berdasar kekuatan dasar minimum.

"Kebijakan dari Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono) untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan alutsista khususnya untuk mengganti pesawat-pesawat berusia di atas 30 tahun," ujarnya.

Pesawat latih T50 Golden Eagle rencananya menggantikan Hawk 53 MK buatan Inggris yang segera dipensiunkan. Selain T50, TNI Angkatan Udara juga akan membeli pesawat Super Tucano untuk menggantikan OV-10 Bronco.

"Proses pengadaan T50 sudah ditetapkan oleh Kemhan (Kementerian Pertahanan). Proses pengadaan sudah dimulai," tuturnya.

Untuk membeli satu skuadron T50, pemerintah harus menyiapkan danaa 400 juta dolar AS. Pesawat rencananya mulai dikirim ke Indonesia pada 2012.

"Normalnya sebenarnya 18 bulan, tapi kami minta perusahaannya untuk mempercepat," kata Imam seraya menyebutkan T50 cocok untuk latihan pilot pesawat Sukhoi dan memiliki kemampuan mirip F 16.

"Jadi sebelum mereka ke Sukhoi, mereka kita latih pakai T50 dulu. Karena kalau latihan pakai Sukhoi "cost operasional" nya cukup besar. Selain untuk latihan, pesawat ini bisa digunakan untuk operasi penyerangan ringan," kata Imam.

Senin, 21 Maret 2011

Jadwal Perbaikan Pesawat Hercules TNI AU di AS Bakal Molor



JAKARTA - Satu unit pesawat C-130 Hercules TNI AU yang kini tengah menjalani pemeliharaan berat di ARINC di Oklahoma, Amerika Serikat (AS). Jadwal penyelesaiannya diperkirakan molor dari waktu yang sudah ditentukan yaitu selama enam bulan.

"Seharusnya pemeliharaan dilakukan selama enam bulan, namun berdasar hasil deteksi tim pemeliharaan di ARINC terdapat beberapa bagian pesawat yang harus dibongkar dan diganti dengan yang baru," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro di Jakarta, Senin (21/3).

Pesawat bernomor register A-1323 ini menjalani pemeliharaan berat sejak Juli 2010 lalu.
"Perbaikan dalam Programmed Depot Maintanance (PDM) tersebut merupakan pemeliharaan tingkat berat untuk pesawat Hercules yang mengacu pada "technical order" yang dikeluarkan AS. Program ini merupakan tindak lanjut dari yang telah disepakati antara TNI-AU dan USAF," kata Marsekal Pertama Bambang Samoedro .

Ia mengemukakan, program pemeliharaan yang dibiayai dengan hibah AS itu bertujuan meningkatkan kemampuan dan kesiapan pesawat C-130 Hercules TNI AU.

"Dalam program perbaikan ini rencananya juga akan melibatkan 10 orang teknisi TNI-AU dalam rangka berbagi pengetahuan perawatan pesawat. Ke-10 teknisi itu akan diberangkatkan Selasa besok," kata Bambang menambahkan.

Ia menambahkan, hibah pemeliharaan C-130 Hercules TNI Angkatan Udara akan dilakukan bertahap. "Jika satu unit ini telah selesai dan berhasil ditingkatkan kemampuannya, maka dua unit pesawat angkut berat sejenis, juga akan menjalani pemeliharaan di Oklahoma," tuturnya.

Teknisi TNI AU sebenarnya telah memiliki kemampuan untuk melakukan pemeliharaan pesawat C-130 Hercules di Depo Pemeliharaan 30 di Lanud Abdurahman Saleh, Malang. Hanya saja, pihak AS ingin melakukan pengecekan dan pemeliharaan secara menyeluruh dan lebih teliti.

Sabtu, 12 Maret 2011

Pengganti Fokker 27 : Antara C-295 atau C-27J


C27J Spartan (photo : Antara)

TNI-AU Kaji Pembelian C-27j Spartan

Jakarta (ANTARA) - Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, pihaknya tengah mengkaji pengadaan enam unit pesawat angkut sedang C-27j Spartan buatan Italia, untuk menggantikan pesawat angkut sejenis Fokker-27 yang telah lama digunakan.

"Ya kita akan lihat dulu dari berbagai sisi, seperti `operation requirments`, spesifik teknisnya, dukungan logistiknya dan lainnya, sehingga saat terbeli barang itu benar-benar sesuai dengan apa yang kita butuhkan," katanya, ketika dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Rabu.

CN-295M (photo : valka)
Ia mengatakan, selain C-27j Spartan buatan Italia, TNI Angkatan Udara juga melirik CN-295 buatan PT Dirgantara Indonesia untuk menggantikan pesawat F-27 yang telah digunakan TNI Angkatan Udara selama 20 tahun.
Imam mengemukakan, pengadaan pesawat akan difokuskan pula pada pesawat angkut, mengingat selama rentang lima tahun mendatang akan banyak operasi militer selain perang yang lebih membutuhkan pesawat angkut baik ringan, sedang maupun berat.
Fokker 27 TNI AU (photo : rico tuerah)

Tentang penggantian F-27 dengan CN-235, Kasau mengatakan, pihaknya sudah memiliki enam pesawat CN-235 untuk memperkuat armada angkut ringannya.

"Sedangkan kita juga membutuhkan pesawat angkut sedang, nah ini yang bisa dipenuhi oleh `Spartan`. CN-235 memiliki kapasitas sekitar tiga ton, sedangkan `Spartan` mampu mengangkut hingga 10 ton," tuturnya.

Inside of C-27J cabin (photo : Flightzone)

Pesawat C-27j Spartan merupakan pesawat angkut sedang buatan Alenia Aeronautica Italia, yang merupakan hasil "up grade" "Alenia G.222" oleh Lockheed Martin Alenia Tactical Transport System. Dapat lepas landas di landasan tanah yang pendek atau kurang dari 500 meter, dengan berat maksimum lepas landas 30.000 kilogram.

Pesawat itu dapat digunakan untuk angkut pasukan, operasi penerjunan, SAR, patroli maritim, angkutan barang dan peralatan medis. "Spartan" dapat terbang selama sembilan jam, didukung dua mesin General Electric T64-P4D airlifter generasi baru militer.

Inside of C-295 cabin (photo : c-295)

Sejak diproduksi pada 2001, C-27j telah digunakan angkatan bersenjata Bulgaria, Yunani, Italia, Amerika Serikat, Lithuania, Rumania dan Maroko serta Rumania.

Salah satu pesawat C-27j Spartan kini tengah berada di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dalam formasi "static show" usai mengikuti pameran dirgantara di Avalone, Melbourne, Australia. Kehadirannya di Pangkalan Halim Perdanakusuma tersebut dalam rangka promosi.

Jumat, 04 Maret 2011

Sambut Super Tucano,Skuardon Udara 21 Bangun Hanggar Baru

 MALANG - Terkait kedatangan pesawat tempur EMB-314 Super Tucano dari Brasil yang tiba secara bertahap pada tahun 2011 ini, Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman akan membangun hanggar dan shelter baru untuk menunjang fasilitas operasional dan perawatannya. Rencananya, pesawat akan tiba empat unit dulu dari total 16 unit yang dipesan pada tahun ini," katanya.

Pembangunan hanggar di Lanud Abdurahman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur tersebut akan mulai dibangun pada triwulan II tahun 2011 atau sekitar Mei, Juni.

Komandan Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh Letkol Pnb Ferlianto, minggu lalu mengatakan, kecanggihan hanggar ini meliputi adanya tempat data link yang tersambung dengan komputerisasi, ruang simulator untuk percobaan pesawat, ditambah dengan teknologi Ground Support Equipment (GSE).

Kontrak pembelian pesawat tempur telah ditandatangani Desember 2010 lalu. Dalam rentang waktu 2010-2014, pihak Lanud Abdurahman Saleh telah menyiapkan pengadaannya.


EMB-314 Super Tucano

"Pada Januari lalu, Wakil KSAU melakukan kunjungan ke sini, karena pada triwulan I sudah dilakukan pengukuran maupun survei lapangan terhadap lokasi pembangunan hanggar yang akan digunakan pengembangan fasilitas Skadron Udara 21," ujarnya.

Pesawat tersebut dibeli sebagai pengganti pesawat OV-10F Bronco yang sudah di grounded pada 2007. Super Tucano mampu bermanuver dengan kecepatan tinggi dan rendah, serta melaksanakan kapabel beroperasi pada malam hari.

Untuk level Asia, Indonesia adalah yang pertama memiliki pesawat jenis ini. Selain Indonesia, pemakai lainnya tercatat antara lain Argentina, Prancis, Kuwait, dan Paraguay.

Senin, 14 Februari 2011


F16 Angkatan Udara Amerika (foto: Pesawat - Mathiau Pouliot)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Tentara Nasional Indonesia (TNI) menerima tawaran hibah doa skuadron Pesawat tempur F-16A / B "Fighting Falcon" Dari amerika Serikat (AS).

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono kepada ANTARA di Jakarta, Senin mengemukakan, proses persetujuan Sudah disampaikan Press Pertahanan dan menunggu konfirmasi tangguhan Dari pihak AS.

"Prosesnya sedang Berjalan, Juga Dibuat Sudah ditindaklanjuti Press Pertahanan dan Suami Saat Kita Dari konfirmasi lebih Lanjut Tentang SEBAGAI menunggu persetujuan RI tersebut tetap Permanent hibah," ujarnya.

Agus menuturkan, pertimbangan TNI menerima hibah doa skuadron F-16A / B Fighting lebih dikarenakan ITU Falcon tersebut berlaku dan efisien jika membeli Pesawat Yang Baru Enam sejenis. "Telah memprogramkan pengadaan Enam Pesawat F-16 Yang Baru Dari TNI SEBAGAI PADA 2014, Yang Canggih lebih,. Namun, Dari Segi harga lebih hemat jika Kita menerima hibah doa skuadron F-16 tersebut" katanya.

Dari Sisi Teknologi, Lanjut Panglima TNI, ke-24 unit Pesawat ITU hibah dapat di-"upgrade" disesuaikan Artikel Baru Artikel Baru Teknologi terbaru SETARA F-16 varian terbaru yakni F-16 C / D Blok 52. "Sistem avioniknya termasuk Kita 'up-grade', sistem persenjataannya, Yang dihibahkan ITU Masih Sangat 'mumpuni' sebagai persenjataan F-16 Pesawat Maka Efek Yang tangkal memberikan," katanya.

Bahkan, Masa pakai Pesawat F-16 Yang dihibahkan ITU Masih Bisa mencapai 20 hingga 25 Lagi years. "Jadi, lebih efisien tersebut berlaku dan Kita menerima ITU hibah, small membeli Enam Pesawat sejenis Yang Baru," paparnya.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro mengatakan, pihaknya berharap hibah ITU Artikel Baru, TNI Segera dapat memenuhi skuadron tempurnya Secara maksimal.

"Hibah tersebut untuk Artikel, Maka TNI Angkatan Udara dapat Segera mendapat Transaksi Pesawat tempur, regular tidak Harus menunggu hingga 2014. Ini kan Baik untuk memberikan Efek tangkal," katanya.

Rabu, 02 Februari 2011

KSAU : Australia Akan Hibahkan 4 Hercules Kepada TNI AU




C-130H RAAF

YOGYAKARTA - Pemerintah Australia akan memberikan hibah empat pesawat Hercules kepada TNI AU, kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat di Yogyakarta, Rabu (2/2).

"Kepala Angkatan Udara Australia telah melakukan kunjungan ke Indonesia pada 27 Januari 2011, dan mereka siap menyerahkan pesawat tersebut," katanya usai memimpin upacara serah terima jabatan Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU) di Yogyakarta.

Menurut dia, dalam kunjungan itu Kepala Angkatan Udara Australia, selain memberikan kuliah kepada taruna AAU, juga melakukan komunikasi dalam rangka realisasi rencana hibah empat pesawat Hercules.

"Proses penyerahan pesawat hibah tersebut tidak akan dilakukan dalam satu waktu, melainkan bertahap hingga 2012. Tahun ini akan diserahkan dua pesawat, kemudian pada 2012 dua pesawat lagi," katanya.

Ia mengatakan, setelah diterima, pesawat Hercules tersebut tidak akan langsung dioperasikan, tetapi harus terlebih dulu masuk depo untuk dilakukan pengecekan.

"Setelah dinyatakan siap untuk pengoperasian, pesawat Hercules tersebut baru diterbangkan untuk mendukung produktivitas kerja TNI AU," kata mantan Gubernur AAU itu.

Menurut dia, pesawat Hercules yang dibutuhkan TNI AU saat ini sebanyak 30 unit. Namun, TNI AU hanya memiliki 21 pesawat Hercules, sehingga masih kurang sembilan pesawat.

"Kekurangan pesawat Hercules itu akan dipenuhi dari hibah dan membeli. Sebanyak 30 pesawat Hercules akan digunakan untuk pesawat tanki sebanyak dua unit, pesawat VIP dua unit, dan pesawat operasional dua batalyon sebanyak 26 unit," katanya.

Jumat, 28 Januari 2011

Menhan : Idealnya Indonesia Perlu 180 Pesawat Tempur





JAKARTA - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan keputusan untuk menerima hibah pesawat tempur F16 dari Amerika belum final namun demikian pemerintah masih melakukan pertimbangan yang tepat terutama pengalokasian anggaran antara beli dan hibah.

“Kita memang memerlukan pesawat ini, karena kesiapan pesawat yang ada sangat minim. Apalagi seluruh wilayah nusantara memang kesulitan,” katanya di Jakarta, Kamis (27/1).

Menurut Purnomo, kesiapan pengamanan udara seluruh nusantara, di bawah 30 pesawat tempur perharinya. Perhitungan ideal untuk Indonesia diperlukan 180 pesawat tempur per hari atau 12 skuadron. “Singapura dengan wilayah yang tidak begitu besar memiliki F-16 tiga skuadron. Australia punya 80 pesawat F-18,” katanya.

Purnomo mengatakan bahwa pengalaman perang Trikora, yang dapat menggetarkan itu karena kekuatan laut dan udara kuat. “Kita berencana membeli 6 pesawat F-16 (@60 juta dollar). Jika kita alokasikan untuk meretrofit 24 pesawat hibah, maka akan masih menguntungkan,” katanya.

Menhan lebih lanjut menjelaskan, alasan Amerika menawarkan hibah F16 kepada Indonesia karena pesawat tersebut termasuk dalam pesawat dikonservir dalam mengurangi anggaran pertahanan Amerika Serikat dan bersamaan dengan kedatangan pesawat F-22 (KFX).

“Pesawat F16 yang ditawarkan AS masih bisa terbang waktu dibawa ke Arizona. Jam terbangnya masih sekitar 4 ribu sampai 5 ribu jam terbang. Masih sekitar 20 sampai 25 tahun bisa digunakan,” tuturnya.

Sementara itu, Kasau Marsekal TNI Iman Sufaat menjelaskan awalnya dari surat TNI AU 2009. Dijawab pada 2010 bersamaan dengan kunjungan Kasau ke Kasau Amerika mengungkapkan Thailand pernah mendapatkan 30 unit F16. Hibah ini gratis. Namun Block 15 dan block 25 perlu diupgrade lagi karena avioniknya sudah tua.

“Untuk upgrade satu pesawat 10 juta dollar. Barunya 60 juta dollar. Operasionalnya sudah terbukti di Timur Tengah. Keunggulannya teruji. Maintenance gampang daripada Sukhoi. Kita juga sudah biasa merawat F-16,” kata Kasau.

Imam mengatakan, anggaran 6 pesawat block 52 akan lebih menguntungkan dengan mengambil 24 pesawat F-16. Jika di upgrade ke block 32 akan lebih baik dari block 52. “Yang Program F-16 tidak mengambil anggaran Sukhoi,” ujarnya.

Dia menambahkan pesawat tempur F5 juga akan tetap diganti. Sukhoi pun yang enam belum ada alokasinya. “F-16 yang kita punya pun akan diupgrade ke block 32. Untuk biaya pemeliharaan. Satu jam terbang hanya 70 juta. Sedangkan Sukhoi 500 juta dan peralatannya cukup rumit,” ungkapnya.

Menurut dia Retrofit satu tahun 8 pesawat. Akan sangat menguntungkan dan mempercepat pemenuhan MEF. Untuk Sukhoi ada anggaran 84 juta dollar.

Hibah 24 Pesawat F-16, DPR Khawatir Intervensi



JAKARTA - DPR khawatir dengan rencana TNI yang akan menerima hibah 24 pesawat tempur F16 dari Amerika Serikat. Hibah itu dikhawatirkan bisa menambah ketergantungan Indonesia kepada AS.

DPR juga tidak ingin hibah F16 ini mengganggu rencana pembangunan Kekuatan Pokok Minimum (Minimum Essential Force/MEF) dari dalam negeri.

"Saya berharap Hibah tak mengganggu MEF. Jangan sampai justru menjadi beban. Bisa menjadi beban fiskal keuangan dalam negeri," kata anggota Komisi I DPR Mohammad Syahfan B Sampurno dalam Rapat Kerja dengan Panglima TNI dan Menteri Pertahanan di gedung DPR, Kamis (27/1).

"Jangan sampai dengan iming-iming hibah 24 F16 dengan kualifikasi standar dan tak diimbangi kemampuan malam hari, retrofit-nya (penambahan teknologi baru) juga mahal 1 juta AS per unit. Berarti 24 juta AS sebanyak 24 unit," katanya.

Rencana penerimaan hibah F16 ini terungkap dalam Rapat Kerja dengan Komisi I. Menurut Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (TNI) Imam Sufaat, rencana penerimaan hibah F16 termasuk dalam pesawat yang dikonservir karena pengurangan anggaran," kata Imam menjelaskan.

Menurut Imam, F16 yang akan dihibahkan ini memiliki masa pakai masih lama. "Pesawat ini masih bisa terbang waktu dibawa ke Arizona. Jam terbangnya masih sekitar 4 ribu sampai 5 ribu jam terbang. Masih sekitar 20 sampai 25 tahun bisa digunakan," kata Imam.

Menurut Imam, hibah ini gratis. "Untuk upgrade satu pesawat 10 juta dollar, harga barunya 60 juta dollar. Operasionalnya sudah terbukti di Timur Tengah. Keunggulannya teruji. Maintenance lebih gampang daripada Sukhoi. Kita juga sudah biasa merawat F16," katanya.

Imam menambahkan, anggaran untuk membeli 6 pesawat F16 jenis Block 52 akan lebih menguntungkan dengan mengambil hibah 24 pesawat F16 Block 15 dan 25. "Kita memerlukan pesawat ini karena kesiapan pesawat yang ada sangat minim. Seluruh wilayah nusantara memang kesulitan," katanya.

Menurut Imam, kesiapan TNI AU saat ini di bawah 30 pesawat tempur per harinya. "Perhitungan kami 180 pesawat tempur per hari atau 12 skuadron," ujar Imam. Pengalaman Perang Trikora, kata Imam, Indonesia bisa menggetarkan musuh karena kekuatan laut dan udara kuat, beda ketika Perang Timor Timur.

Selasa, 25 Januari 2011

Kepastian Hibah F-16 Belum Dapat Jawaban AS



YOGYAKARTA - Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, kepastian hibah pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat kepada Indonesia masih menunggu jawaban negara adikuasa itu.

"Kami berharap segera ada jawaban mengenai hal itu," katanya di sela rapat pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Senin (24/1).

Ia mengatakan, pihaknya telah mengajukan permintaan kepada Amerika Serikat (AS) terkait dengan hibah 24 pesawat tempur F-16 pada 2009, tetapi hingga kini belum ada jawaban dari negara adidaya itu.

"Belum adanya jawaban dari AS kemungkinan karena banyak negara yang juga mengajukan permintaan hibah pesawat tempur F-16. Mereka juga ingin mendapatkan hibah pesawat tersebut," katanya.

Oleh karena itu, menurut dia, pihaknya melakukan pendekatan khusus kepada pihak yang berwenang di AS agar permintaan Indonesia mengenai hibah pesawat tempur F-16 disetujui dan direalisasikan secepatnya.

Ia mengatakan, TNI AU juga berencana membeli pengganti pesawat OV-10 Bronco, helikopter, dan pesawat angkut, karena ada dana tambahan percepatan pengadaan alat alutsista sebesar Rp4 triliun.

"Dana tambahan tersebut selain digunakan untuk pengadaan alutsista juga dipakai untuk perawatan dan pembelian suku cadang alutsista. Hal itu sesuai dengan program perencanaan strategis pembangunan TNI AU 2010-2014," katanya.

TNI AU Siap Lakukan Penyelidikan

Terkait dengan munculnya lingkaran besar yang muncul di areal pesawahan Dusun Rejosari, Sleman, pada Minggu (23/1) TNI AU menyatakan siap jika diminta meneliti dan menyelidikinya.

"Kami akan menunggu perkembangan lebih lanjut. Jika diminta untuk terjun meneliti fenomena itu, kami siap melaksanakannya," kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat di sela rapat pimpinan TNI AU di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Senin.



Menurutnya, jika melihat bentuk lingkaran besar yang muncul, itu kemungkinan besar tercipta oleh teknologi canggih.

"Fenomena tersebut memang bisa dimungkinkan oleh bekas jejak pendaratan UFO, karena banyak orang yang meyakini makhluk luar angkasa itu ada. Namun, kekuatan dan kemampuan kita mungkin belum mampu menjangkau teknologi makhluk asing tersebut," katanya.

Ia mengisahkan, saat dia bertugas di Madiun, Jawa Timur, pernah mendapat laporan ada makhluk asing berupa cahaya biru dengan kekuatan tinggi, tetapi tiba-tiba menghilang.

"Waktu itu masih pagi, tetapi ada kilatan cahaya aneh yang kemungkinan juga akibat teknologi tinggi, dan banyak orang yang meyakini fenomena itu adalah UFO," katanya.

Lingkaran besar di pesawahan Dusun Rejosari itu diketahui warga pada Minggu (23/1) usai hujan dan angin kencang di kawasan tersebut.

Beberapa warga meyakini lingkaran besar itu bekas pendaratan pesawat UFO dari planet lain, sementara lokasi penampakan diduga UFO itu terus dipadati warga yang ingin melihat fenomena langsung fenomena itu.

Selasa, 04 Januari 2011

KSAU Terima Kunjungan Mantan Komandan US PACAF


Bahas Pra-Kedatangan Mesin Pesawat F-16

JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP., menerima kunjungan General (Ret) William J. Begert mantan Komandan US PACAF di Mabesau Cilangkap, Selasa (4/1).

Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk memonitor kesiapan engine pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU pasca embargo beberapa waktu lalu.

Dalam pertemuan tersebut Kasau didampingi Aspam Kasau Marsda TNI Gunpanadi, Asops Kasau Marsda TNI Ignatius Basuki, Aslog Kasau Marsda TNI Bambang Purwadi P, dan Kadispenau Marsma TNI Bambang Samoedro, S.Sos. sedangkan General (Ret) William J. Begert didamping oleh perwakilan perusahaan Pratt & Whitney di Jakarta.

Lanud Manuhua-Biak Disiapkan Untuk Skuadron Pesawat Tempur




BIAK - TNI Angkatan Udara akan meningkatkan status pangkalan udara Manuhua Biak menjadi tipe B sebagai upaya memperkuat keamanan wilayah udara di Papua dan Papua Barat.

Dengan peningkatan status itu, Lanud Manuhua akan dipimpin komandan berpangkat kolonel disertai penambahan jumlah prajurit, kata Panglima Komando Operasi III TNI AU Marsekal Muda TNI R Agus Munandar usai memimpin serah terima jabatan Danlanud di Biak, Selasa (4/1).

Menurut Agus, pengembangan status Lanud Manuhua sudah menjadi program TNI AU mengingat wilayah operasinya yang sangat luas, selain untuk menyesuaikan tuntutan kebutuhan masyarakat setempat.

Agus belum bisa memastikan kapan perubahan status itu ditetapkan, namun ia memastikan dalam waktu dekat dan tinggal menunggu waktu.

"Dari berbagai sarana prasarana yang dimiliki pangkalan udara Manuhua Biak telah lengkap serta melengkapi berbagai persyaratan lainnya, ya cepat atau lambat peningkatan status ini bisa terwujud tergantung kebijakan dan kebutuhan di lapangan," katanya.

Kedepan, menurutnya, TNI juga tengah merencanakan untuk melengkapi Lanud Biak dengan fasilitas pesawat tempur dengan satuan skuadron.

Satuan skuadron dibutuhkan untuk menjaga keamanan wilayah udara NKRI di daerah yang bertetangga denga Papua Neugini dan Australia.

"Dalam rencana strategis menjaga keamanan NKRI dari sabang hingga Merauke maka kedepan kehadiran satuan skuadron di wilayah Papua menjadi kebutuhan, ya ke semua ini bisa direalisasikan atau tidak tergantung dengan ketersediaan anggaran dan kebijakan prioritas program Mabes TNI AU," katanya.

Jabatan Dalanud Manuhia Biak, Selasa pagi, diserahterimakan dari Letkol (Pnb) Joko Tri Wibowo kepada penggantinya Letkol (Pnb) Joko Hadi Purwanto melalui sebuah upacara militer.

Sabtu, 01 Januari 2011

Satu Helikopter Super Puma Perkuat TNI


BOGOR - Dengan rampungnya pengerjaan satu helikopter NAS-332 Super Puma oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI), diharapkan dapat memperkuat alutsista. Helikopter tersebut diserahkan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro kepada Skuadron Udara 8 di Lapangan Udara Atang Sanjaya, Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (30/12).

"Super Puma ini diselesaikan oleh putra-putri Indonesia. Ini menunjukkan pendanaan alutsista untuk produksi dalam negeri untuk memperkuat industri pertahanan," tuturnya.

Helikopter Super Puma tidak hanya diperuntukan memenuhi kebutuhan militer. "Heli Super Puma ini transportasi serbaguna. Bisa dipakai mengangkut pasukan, logistik, atau kegiatan lain yang sifatnya operasi militer selain perang," imbuhnya.


Dirjen Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, Laksda Susilo (2 kanan) disaksikan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kiri), Danlanud Atang Sanjaja Marsekal Muda Sunaryo (2 kiri), Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat (3 kiri) dan Dirut PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Budi Santoso (kanan) menantangani surat serah terima Helicopter NAS-332 Super Puma di Lanud Atang Sandjaya, Bogor, Jabar, Kamis (30/12).

Super Puma yang dirampungkan saat ini merupakan helikopter ketujuh dari target sembilan unit. "Saat ini empat sudah digunakan untuk kegiatan SAR, dua untuk VVIP. Dua sisanya akan diselesaikan dalam waktu dekat," tuturnya.

Seluruh helikopter ini dikerjakan oleh PT DI. Dari dua yang sedang dalam tahap penyelesaian, satu helikopter ditargetkan rampung pada akhir 2011 dan satu lagi pada pertengahan 2012.

Serah Terima Model Aerodinamika Pesawat N219



JAKARTA - Pesawat CN235 produksi kerjasama antara PT. Dirgantara Indonesia dengan CASA Spanyol diharapkan menjadi pesawat patroli maritim yang digunakan oleh semua negara.

"Itu cita-cita kami," kata Dirut PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso pada serah terima hasil pengujian model aerodinamika pesawat udara N219 dari BPPT kepada PT DI di Jakarta, Selasa (28/12).

Ia membantah produksi pesawat CN235 tidak berlanjut, karena saat ini PT DI sedang mengerjakan empat unit CN235 pesanan Korea Selatan untuk patroli pantai (coast guard), untuk beberapa negara lain yang tertarik dan untuk kepentingan dalam negeri TNI AL.

Pada Desember 2009 TNI AL diberitakan membeli tiga unit CN-235 MPA sebagai bagian dari rencana memiliki enam pesawat MPA sampai tahun 2014.

"CN235 sampai kini banyak dibutuhkan untuk kepentingan negara yang mengkhawatirkan permasalahan bajak laut, penyelundupan, atau imigran gelap, khususnya karena pesawat setipenya seperti Buffalo tidak diproduksi lagi," katanya.

Bahkan, untuk mengawasi Kepulauan Spratly di Laut China Selatan yang dipersengketakan sejumlah negara, baik Tentera Diraja Malaysia maupun Brunei sama-sama mengerahkan pesawat CN235 buatan PT DI, ujarnya dengan bangga.

Saat ini masih beroperasi sekitar 50 pesawat CN235 di berbagai negara buatan PT DI dan sekitar 150 unit CN235 buatan Casa Spanyol.

CN235 versi Patroli Maritim dilengkapi dengan sistem navigasi, komunikasi dan misi serta mengakomodasi rudal.

Saat ini PT DI baru saja menyelesaikan uji model aerodinamika pesawat perintis N219 berkapasitas 19 penumpang di BPPT yang sangat sesuai dengan kondisi kepulauan dan pegunungan Indonesia.

Direktur Aerostructure PT DI Andi Alisjahbana mengatakan, pengerjaan pesawat N219 dengan mesin Pratt & Whitney ini sudah selesai 35 persen, tinggal tahap tersulit persoalan pendanaan yang diharapkan menemukan solusinya pada 2011 untuk menyelesaikan 65 persen sisanya.

Di Indonesia, disebutkannya, ada 715 airport dan airfield, namun 72 persen runawaynya hanya memiliki panjang di bawah 800 meter. Sedangkan untuk penerbangan perintis terdapat 118 rute di 14 provinsi dengan 89 bandara.

Pesawat untuk Landasan Pendek

Penerbangan perintis masih akan menjadi andalan Indonesia untuk membuka keterisolasian daerah-daerah terpencil, baik yang ada di pegunungan maupun pulau-pulau kecil. Untuk itu, dibutuhkan pesawat komuter yang sesuai dengan kondisi geografis dan sosioekonomi setempat.

Banyak daerah terpencil di Indonesia yang memiliki landasan pacu pesawat terbang sangat pendek. Lokasi daerah yang berada di punggung gunung, seperti Papua atau pulau-pulau kecil yang sempit, membuat sulit dibangun landasan pacu yang panjang. Bahkan, akibat kendala geografis itu, banyak daerah yang masih sulit dijangkau dengan menggunakan pesawat-pesawat perintis sekalipun.



Saat ini terdapat 72 persen atau 715 bandar udara dan lapangan terbang di Indonesia yang panjang landas pacunya kurang dari 800 meter. Sebanyak 70 persen atau 60 pesawat perintis dengan kapasitas 9-20 penumpang sudah berumur di atas 20 tahun.

Penerbangan perintis itu menghubungkan 89 bandar udara atau lapangan terbang yang ada di 14 provinsi dan melayani 118 rute penerbangan. Setiap tahun, subsidi negara untuk menutupi biaya operasional penerbangan perintis itu mencapai Rp 240 miliar.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan Azis Iskandar di Jakarta, Selasa (28/12), mengatakan, kebutuhan pesawat berkapasitas 9-20 penumpang di Indonesia saja hingga 20 tahun mendatang mencapai 97 unit untuk penerbangan sipil dan 105 pesawat untuk keperluan khusus.

Pesawat N219

Menjawab kebutuhan akan pesawat kecil yang bisa menyesuaikan dengan berbagai keterbatasan kondisi geografis yang ada, PT Dirgantara Indonesia (DI) mengembangkan pesawat N219 berkapasitas 19 penumpang. Pesawat ini dirancang sesederhana mungkin, tetapi tidak mengurangi aspek keselamatan penerbangan.

Direktur Utama PT DI Budi Santoso menyatakan, jika pesawat N219 ini nanti terwujud, akan menjadi pesawat tercanggih di kelasnya. Desain pesawat sejenis rata-rata dibuat pada 1950-an.

Pesawat ini akan menggunakan teknologi era 2000-an. Beberapa kecanggihan yang ada dalam pesawat ini, antara lain, menggunakan desain dan analisis aerodinamik hasil penelitian terbaru, desain pesawat seluruhnya menggunakan komputer, serta penggunaan bahan rangka pesawat yang ringan tetapi tetap kuat.

Selain itu, pesawat juga dilengkapi dengan sistem navigasi penerbangan elektronik berbasis personal computer yang murah dan global positioning system (GPS). Dengan peralatan ini, ketika pesawat menghadapi cuaca buruk, hujan deras, ataupun awan tebal, posisi gunung-gunung yang ada di depan ataupun landasan pacu pesawat tetap dapat terdeteksi.

N219 mampu didaratkan pada landasan berumput sepanjang 600 meter. Adapun pesawat sejenis Casa C-212 hanya bisa mendarat di landasan sepanjang 800 meter, sedangkan DHC-6 Twin Otter bisa mendarat di landasan sepanjang 600 meter, tetapi kapasitas angkutnya lebih kecil.

Mesin pesawat yang menggunakan produk Pratt & Whitney ini dirancang untuk tetap berkinerja baik pada daerah dengan tekanan udara rendah dan suhu tinggi.

”Di pegunungan yang tekanan udaranya rendah dan kondisi suhu tinggi yang membuat kerapatan udara kurang akan mengurangi kinerja mesin. Pengurangan kinerja mesin N219 tidak sedrastis pesawat sejenisnya hingga membuatnya lebih stabil,” ungkap Direktur Aerostruktur PT DI Andi Alisjahbana.

Meski termasuk mesin pesawat generasi lama, Pratt & Whitney dipilih karena lebih banyak teknisi yang memahaminya dan suku cadang banyak tersedia. Jika digunakan mesin pesawat generasi baru, dipastikan perawatannya akan lebih susah dan mahal.

Walau demikian, keamanan pesawat tetap jadi prioritas. Posisi sayap dan mesin yang ada di atas membuat mesin cukup terlindung dari debu atau kerikil saat mendarat. Ban pesawat juga didesain tetap ada di luar pesawat, tak dimasukkan dalam badan pesawat saat terbang sehingga tidak perlu khawatir ban tak keluar saat akan mendarat.

Daya angkut dan jelajah

Kapasitas angkut pesawat juga lebih besar dibandingkan pesawat sejenis, yaitu 2.318 kilogram. Ini akan menjawab keluhan sejumlah penumpang di daerah pedalaman yang sering protes saat barang bawaannya tidak terangkut.

Jarak tempuh maksimal pesawat adalah 1.539 kilometer. Namun, pesawat dirancang untuk terbang beberapa kali (multi hop) pada jarak yang lebih pendek, sesuai karakter penerbangan perintis, tanpa perlu mengisi bahan bakar di setiap pemberhentian. Ini untuk mengantisipasi terbatasnya persediaan bahan bakar di daerah pedalaman.

Bagian dalam pesawat juga mudah diubah dalam waktu singkat untuk disesuaikan dengan kebutuhan, apakah akan mengutamakan angkutan penumpang atau barang. Pengubahan yang cepat ini memungkinkan penggunaan pesawat ini untuk angkutan evakuasi medik dari daerah bencana atau untuk keperluan militer.

”Pesawat ini merupakan jawaban atas cemoohan berbagai pihak bahwa PT DI (dulu Industri Pesawat Terbang Nusantara/IPTN) hanya bisa membuat teknologi tinggi yang tidak bisa diaplikasikan sesuai kebutuhan bangsa,” ungkap Andi.

Pesawat yang kini dalam proses penyelesaian desain awal ini diharapkan dapat diproduksi pada 2013 dengan catatan tidak ada masalah pendanaan dalam pengembangan dan produksinya. Penggunaan pesawat N219 diharapkan dapat menggantikan pesawat-pesawat perintis yang sudah tua serta menjadi media alih teknologi dari ahli rekayasa dan teknisi pesawat era 1980- 1990 kepada generasi muda.

Sumber : KOMPAS, ANTARA

Selasa, 21 Desember 2010

Pilot TNI AU & RSAF Akan Duel di Udara


JAKARTA – Pertempuran udara (Dog Fight) antara penerbang-penerbang tempur TNI AU dan RSAF baik satu lawan satu maupun satu lawan dua akan terjadi di wilayah udara Rembiga NTB.

Pertempuran tersebut dilakukan dalam Latihan bersama (Latma) dengan sandi ”Elang Indopura 16/10” antara TNI AU dengan Republic of Singapore Air Force (RSAF) di Lanud Ngurah Rai Bali, selama dua minggu.

Dalam Air Manuver Exercise (AMX) TNI AU mengerahkan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, sedangkan RSAF mengerahkan pesawat jenis F-16 Fighting Falcon Blok D yang berpangkalan di Tindal Air Force Base (AFB) Australia dan F-5 Tiger.

Tujuan latihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan para penerbang tempur dalam melaksanakan operasi udara bersama dan kerjasama kedua negara khususnya kedua Angkatan Udara.

Sebelum pelaksanaan AMX dilakukan penerbangan Observasi pengenalan wilayah latihan dengan Route Ngurah Rai-Rembiga.

Selain F-16 TNI AU dan F-16 serta F-5 RSAF, kedua Angkatan Udara juga menyiapkan pesawat lainnya diantaranya, TNI AU juga menyiapkan pesawat F-5 Tiger II dan SU-30 MK sebagai pesawat escort dan RSAF menyiapkan F-15 SG, serta didukung pesawat angkut C-130 Hercules dan pesawat helikopter SAR SA-330 Puma.

Sebelum pelaksanaan AMX, telah dilaksanakan pula kegiatan Command Post Exercise (CPX) selama empat hari (19-22/10) di Payalebar Air Force Base Singapura.

Sabtu, 06 November 2010

Super Tucano




ALUTSISTA - Dipameran pertahanan dan keamanan Indonesia (Indo-Defence 2010) pada 10-13 November nanti, Kemenhan akan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pembelian satu skuadron pesawat EMB-314 Super Tucano dari Embraer-Brazil. Apa dan bagaimana keistimewaan pesawat ini, simak artikel berikut.

EMB-314 Super Tucano adalah versi yang disempurnakan dari pesawat latih EMB-312 Tucano, dengan kecepatan lebih cepat dan ketinggian lebih tinggi. Tucano juga telah beroperasi di Angkatan Udara dari 17 negara. Prototipe Super Tucano terbang pertama kali pada tahun 1992. Keduanya murni dikembangkan dan dibangun oleh Embraer, Brasil.

Embraer EMB 314 Super Tucano dikenal dengan nama ALX atau A-29 adalah pesawat turboprop yang didesain khusus sebagai pesawat serang ringan yang mampu mengemban misi sebagai pendukung operasi kontra pemberontakan (COIN), patroli pemantauan dan pesawat latih. Meskipun hadir dengan mesin berbaling-baling, Super Tucano diciptakan dengan mengkombinasikan teknologi avionik modern dan sistem senjata terkini.

Selain Brazil sendiri, pesawat tersebut juga telah digunakan AU Kolombia, Chili, Republik Dominika dan Ekuador. Embraer juga berencana untuk merambah ke beberapa negara di Asia dan Timur Tengah.

Pada tahun 1995, Embraer memenangi kontrak dari Brasil Air Force (FAB) pengembangan varian Super Tucano, dikenal sebagai proyek pesawat serang ringan ALX. Pesawat ini dioptimalkan untuk kondisi lingkungan di Amazon, Brazil. ALX diciptakan untuk mampu beroperasi disegala kondisi cuaca, siang dan malam, misi dari pangkalan terpencil dan tak beraspal tanah landasan pacu dengan sedikit dukungan. Pesawat produksi pertama selesai pada tahun 1999.

Pada Agustus 2001, AU Brazil menandatangani kontrak pembelian 76 Super Tucano dengan konfigurasi 25 unit kursi tunggal (A-29 ALX) dan 51 unit kursi ganda (AT-29 ALX). AT-29 ditempatkan di pangkalan AU-Natal untuk menggantikan posisi AT-26 Xavante yang habis masa baktinya.

Salah satu misi utamanya adalah melakukan patroli perbatasan di bawah program sistema de Vigilancia da Amazonia (SIVAM) yakni program pengawasan kawasan Amazon.

Pesawat pertama kali dikirim ke AU Brazil pada Desember 2003, hingga September 2007 Embraer telah menyerahkan sekitar 50 unit pesawat kepada AU Brazil. Pengiriman pesawat ini telah diselesaikan di akhir tahun 2009 kemarin.

Selain sebagai pesawat latih tingkat dasar dan lanjutan, Super Tucano juga dapat dioperasikan sebagai pesawat patroli perbatasan dan counter-insurgency operations (operasi penumpasan pemberontakan).

Pesawat sanggup bermanuver hingga +7g dan -3.5g. Ukurannya yang kecil sanggup mereduksi sinyal radar dan visual, dikombinasi dengan kecepatan yang tinggi dan lincah dalam bermanuver memberikan tingkat survivability cukup tinggi. Tingkat keamanannya pun bertambahan berkat pelindung baja disekitar kokpit dan critical systems redundancy.


EMB-312 Tucano

Di bulan Agustus 2001, Embraer mengumumkan penandatanganan kontrak pembelian 10 unit Super Tucano dengan Republik Dominika. Pesawat tersebut akan difungsikan sebagai pesawat latih, keamanan internal, patroli perbatasan dan perang melawan narkotika. Namun belakangan jumlahnya dikurangi menjadi 8 pesawat, dan pada 18 Desember 2009 kemarin telah diserah terimakan 2 pesawat.

Pada Februari 2005, Venezuela menyatakan minatnya membeli 24 unit EMB-314 Super Tucano kepada Brazil dalam 2 tahap. Tahap pertama 12 unit, sisanya di tahap selanjutnya. Namun proses pembeliannya dibatalkan karena tekanan dari Amerika yang memberlakukan embargo kepada Venezuela termasuk semua komponen sukucadang yang dibuat AS. Saat ini Super Tucano masih menggunakan 30% komponen dari AS.

Pada Desember 2005, AU Kolombia memesan 25 pesawat Super Tucano yang akan digunakan untuk berpatroli di sepanjang garis perbatasannya dan untuk keamanan internal. Pengiriman 5 unit pertama dilakukan pada Desember 2006 dan rampung seluruhnya pada Agustus 2008. Pesawat pesanan Kolombia ini menggunakan perangkat avioniks yang dipasok dari Elbit System.

April 2008, AU Chili memutuskan membeli 12 pesawat EMB-314. Kontraknya sendiri ditandatangani pada Agustus 2008. Empat pesawat telah diterima AU Chili (FACH) pada 23 Desember 2009.

Sejarah, Disain dan Pengembangan

Berlokasi di São José dos Campos, Brazil, Embraer pertama kali didirikan pada tahun 1969 lewat inisiatif pemerintah Brazil saat itu. Perusahaan ini diprivatisasi pada 7 Desember 1994.

Pada 31 Maret 2006, mayoritas pemegang saham Embraer termasuk pemegang saham khusus dan pemilik ADR menyetujui proposal restrukturisasi ‘Embraer’s capital’. Restrukturisasi ini memungkinkan Embraer menyederhanakan struktur penyertaan modal menjadi 1 jenis kepemilikan saham (saham biasa) dan berkontribusi untuk meningkatkan BUMN tersebut lebih efisien dan transparan.

Pengadaan pesawat serang ringan terbaru AU Brazil merupakan bagian dari kebutuhan pemerintah Brasil akan pesawat patroli pengamanan wilayah perbatasan dalam realisasi proyek SIVAM (Amazon Monitoring System). Pesawat tersebut bersama dengan pesawat patroli R-99A dan R-99B nantinya bertanggung jawab mencegat penerbangan ilegal dan patrol sepanjang perbatasan.

Langkah pertama yang dilakukan oleh AU Brazil adalah membentuk proyek pesawat ALX, yang secara tidak langsung diproyeksikan sebagai pengganti pesawat latih militer Embraer EMB 326GB Xavante. Proyek pesawat baru tersebut harus cocok dengan kondisi lingkungan Amazon yang notabene mempunyai suhu dan kelembaban tinggi serta curah hujan relatif tinggi.

Proyek pesawat ALX kemudian ditetapkan menggunakan mesin turboprop karena sangat cocok dengan misi yang bakal diembannya seperti : jarak terbang jauh, perawatan mudah, mampu beroperasi siang dan malam hari, tahan disegala kondisi cuaca dan mampu mendarat di landasan pendek dan berbatu.

The first flight of a single-seat Super Tucano production aircraft occurred on 2 June 1999, while the first flight of the two-seat version took place on 22 October 1999.

Penerbangan perdana pesawat Super Tucano dari varian kursi tunggal dilakukan pada 2 Juni 1999, sedangkan varian kursi gandanya pada 22 Oktober 1999