Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2011

KRI Oswald Siahaan-354 Reload Rudal Yakhont

SURABAYA - Kapal Perang KRI Oswald Siahaan-354 (KRI-OWA) melakukan loading dan unloading rudal Yakhont di Dermaga PT.PAL Indonesia Jum’at (29/4). Pengisian Rudal kedalam peluncurnya ini melibatkan personel KRI-OWA dan Dinas Materiil Senjata Dan Elektronika (Dissenlekal) Mabesal serta teknisi serta peralatan pendukung dari PT.PAL. FOTO: DISPENARMATIM 
 


 


 


Rudal Rusia, Rudal China, dan Pertahanan Perbatasan


Peluru kendali (rudal) Yakhont meluncur ke udara setelah ditembakkan dari Kapal Republik Indonesia Oswald Siahaan-354 (jenis kapal perusak kawal kelas Fregat Van Speijk) di perairan Samudra Hindia, Rabu (20/4). photo : Kompas-Hendra A Setyawan) 



Selangkah demi selangkah upaya membangun pertahanan Republik Indonesia dibangun sejak krisis Timor Timur tahun 2000. Embargo senjata dari Amerika Serikat membuat Indonesia beralih kepada dua negara yang sempat menjadi sahabat erat pada era Soekarno, yakni Rusia dan China.

Salah satu jenis persenjataan dari Rusia dan China yang memperkuat pertahanan Indonesia adalah peluru kendali. Peluru kendali paling canggih yang dimiliki adalah jenis Yakhont buatan Rusia dengan jarak jelajah (cruising range) 300 kilometer. ”Ini merupakan rudal dengan jangkauan terjauh yang saat ini kita miliki,” ujar Komandan Gugus Tempur Laut Armada RI Kawasan Timur Laksamana Pertama Soleman Banjar Nahor, dalam latihan penembakan rudal Yakhont di perairan Samudra Hindia, Rabu (20/4) pekan lalu.

Keberadaan Yakhont memang strategis bagi pertahanan Indonesia. Jangkauan 300 kilometer yang dimiliki Yakhont seandainya ditempatkan di pesisir timur dan utara Sumatera dapat menjangkau Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, serta Kepulauan Nicobar dan Andaman. Seandainya digelar di Kepulauan Natuna-Anambas, rudal tersebut dapat mencapai sasaran di sekitar Kepulauan Spratly dan Paracel, yang menurut pengamat Barat dapat menjadi potensi konflik pada masa depan karena pertentangan China-Amerika Serikat (AS) yang tentu saja akan berdampak pada ASEAN. 
 
Peluncuran rudal Yakhont dari fregat KRI Oswald Siahaan (photo : Vivanews) 

Seandainya digelar di wilayah timur Indonesia, di kawasan Sulawesi Utara, Maluku Utara, atau Papua, rudal Yakhont dapat menjangkau sasaran di Filipina selatan hingga Guam, yang menjadi salah satu basis militer terdepan AS. Adapun di wilayah selatan, di sekitar Kupang dan perairan Timor, rudal tersebut dapat menjangkau sasaran di Darwin dan sebagian kawasan Northern Territory Australia.

Soleman menambahkan, saat ini platform penembakan rudal Yakhont baru dimiliki kapal Armada RI Kawasan Timur yang relatif lebih besar dibandingkan dengan kapal milik Armada RI Kawasan Barat. ”Ke depan Armabar juga akan mampu mengoperasikan Yakhont,” tutur dia.

Seorang perwira muda di Komando Lintas Laut Militer mengatakan, Yakhont dapat ditembakkan dari beragam platform, seperti silo-penyimpanan rudal-di darat, kendaraan tempur, hingga pesawat tempur pengebom seperti Sukhoi. Penembakan melalui pesawat tempur pengebom tentu menambah jauh jangkauan serangan rudal Yakhont!

Rudal dengan hulu ledak (warhead) 300 kilogram bahan peledak itu memiliki dimensi panjang 8,9 meter, diameter 72 sentimeter, dan memiliki kecepatan maksimum hingga 2,5 mach (kecepatan suara). Dalam uji tembak di Samudra Hindia di selatan Selat Sunda, rudal Yakhont menjangkau sasaran di lautan sebelah selatan Pulau Enggano yang berjarak 250 kilometer dalam enam menit saja. 
 
Lintasan rudal Yakhont buatan Rusia (photo : ARC) 

Kepala Pusat Penerangan Umum Mabes TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul mengatakan, keberadaan rudal Yakhont dalam persenjataan TNI lebih ditujukan sebagai detterent (penangkal) terhadap upaya agresi ataupun tindakan tidak bersahabat dari negara tetangga. ”Tentu saja kita mengutamakan perdamaian ASEAN. Apalagi Indonesia adalah negara yang menjadi teladan di ASEAN,” ungkapnya lagi. 

Rudal China

Selain persenjataan Rusia, rudal buatan China juga memperkuat persenjataan TNI. Soleman menceritakan adanya rudal buatan China tipe C-802A dan C-705. Rudal itu merupakan jenis ”Exocet” buatan China.

”Sejumlah kapal perang kita diperlengkapi rudal itu. Sejenis dengan rudal-rudal yang memperkuat kapal perang Kerajaan Thailand yang juga dibuat China,” kata Soleman.

Beberapa tahun lalu, Kompas sempat mengunjungi HTMS Taksin yang sempat singgah di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Kapal latih Angkatan Laut Kerajaan Thailand tersebut dibuat galangan kapal di Shanghai dan memiliki rudal buatan China. Pekan lalu HTMS Taksin kembali singgah di Indonesia, tepatnya di Pelabuhan Benoa, Bali.

Rudal China dengan jangkauan sekitar 70 kilometer hingga 90 kilometer itu turut memperkuat persenjataan Republik Indonesia. Tentu saja di samping persoalan embargo, produk persenjataan buatan Rusia dan China lebih murah jika dibandingkan produk sejenis buatan AS.

Sebuah kapal perang baru, yang akan diluncurkan di Batam, Kepulauan Riau, Senin (25/4), juga diperkuat dengan persenjataan China, termasuk rudal C-802A. Seperti pada tahun 1960-an, persenjataan untuk menjaga wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang waktu itu disegani di belahan bumi selatan, kembali diperkuat arsenal produksi Blok Timur: Rusia dan China.(Iwan Santosa).

Rabu, 20 April 2011

Enam Senjata Strategis TNI AL Sukses di Ujicoba

 BENGKULU - TNI Angkatan Laut sukses melakukan uji coba enam senjata strategis di Samudera Hindia atau sebelah barat Selat Sunda, Rabu (20/4).

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI, Laksamana Muda Iskandar Sitompul, mengatakan, uji coba beberapa senjata strategis itu merupakan upaya TNI menjaga kedaulatan dan tegaknya NKRI. "TNI AL sebagai salah satu pertahanan negara dituntut berperan aktif dalam menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara," katanya.

Enam senjata strategis tersebut diantaranya : rudal Yakhont, Exocet MM-40, Torpedo SUT, Mistral, Seacat dan RBU 6000. Rudal Yakhont ditembakkan dari Fregat Van Speijk class KRI Oswald Siahaan-354 sukses ditembak menuju sasaran yang berjarak 250Km yakni eks kapal perang KRI Teluk Bayur-502. Rudal Yakhont yang ditembakkan merupakan salah satu dari empat rudal yang dibawa KRI Oswald Siahaan-354.

Sedangkan, rudal Exocet MM-40 dan rudal penangkis serangan udara Mistral ditembakkan dari Korvet Sigma class KRI Hassanuddin-366 dan torpedo SUT ditembakkan dari kapal selam kelas 209 KRI Cakra-402. Untuk rudal anti pesawat Seacat ditembakkan dari KRI Karel Satsuit Tubun-358 dan KRI Oswald Siahaan-354. Roket anti-sub-mortar RBU 6000 ditembakkan dari Korvet Parchim class KRI Cut Nyak Dien-375.

"Kapal yang menjadi sasaran telah berhasil dihancurkan dan tenggelam," ungkap Kapuspen. Diungkapkan alasan dibelinya rudal Yakhont dari Rusia, karena berdasarkan kajian rudal Yakhont ini memenuhi standar geografi di Indonesia. "Beberapa rudal sudah kita beli," katanya yang enggan menyebutkan jumlah rudal yang dibeli.

Komandan Gugus Tugas Senjata Strategis TNI AL, Laksamana Pertama TNI Sulaeman Banjarnahor, mengatakan, dalam uji tembak tersebut rudal Yakhont hanya membutuhkan waktu sekitar enam menit mencapai sasaran. Sulaeman mengatakan, TNI AL melibatkan sekitar 19 kapal perang dan empat unit helikopter untuk melakukan uji coba itu.

Menurut dia, rudal Yakhont sebenarnya sudah dimiliki sejak tahun 2007, namun TNI AL baru bisa melakukan uji coba kali ini karena untuk mengintegrasikan sistem kapal dengan rudal membutuhkan waktu yang lama.

Rombongan VIP Batal Menyaksikan

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono dan tiga kepala staf angkatan serta sejumlah anggota DPR dari Komisi I batal menyaksikan uji coba enam senjata strategis di Samudera Hindia atau sebelah barat Selat Sunda.

Rencananya rombongan VIP yang di angkut menggunakan dua helikopter ini bakal mendarat di Helipad KRI Surabaya-591 yang telah disiapkan sejak Rabu pagi, namun hingga pukul 10.40 WIB yang bersamaan dengan proses peluncuran rudal rombongan VIP tak kunjung datang.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Laksamana Muda TNI, Iskandar Sitompul, membenarkan ketidakhadiran para petinggi TNI tersebut. "Kedatangan pejabat dan petinggi TNI sudah direncanakan dengan baik, helikopter yang membawanya dari Jakarta sebenarnya sudah setengah perjalanan menuju Samudera Hindia, namun karena cuaca buruk rombongan akhirnya kembali lagi ke Jakarta," katanya. Rombongan VIP tersebut terbang dari Bandara Halim Perdanakusuma.

TNI AL Sukses Memodifikasi Rudal SAM Seacat

SELAT SUNDA - Sebuah Rudal anti pesawat (SAM) Seacat yang sudah dimodifikasi milik TNI AL, ditembakkan dari buritan KRI Oswald Siahaan-354 (KRI OWA-354), saat berlayar di Selat Sunda, Selasa (19/4). Rudal seacat adalah jenis rudal anti pesawat jarak pendek buatan Inggris. Di Inggris pembuatan rudal ini dimaksudkan untuk mengganti meriam anti pesawat Bofors 40mm, dan seacat menjadi rudal SAM pertama yang dioperasikan dikapal sebagai point-defence missile system. Rudal Seacat memiliki spesifikasi kecepatan tembak 228,60 m per detik, panjang 154,8 Cm dan jarak tembak maksimum 5 Km tersebut, dalam rangka Operasi Jala Perkasa.FOTO ANTARA/Eric Ireng/spt/hm/11 


 


Uji Tembak Rudal Yakhont Sukses dilaksanakan

 BANTEN - Foto-foto uji tembak rudal Yakhont dari KRI Oswald Siahaan-354 dan rudal-rudal lainnya di perairan Samudra Hindia, Rabu (20/4). Rudal Yakhont buatan Rusia ini menembak sasaran eks-KRI Teluk Bayur-502 dengan jarak 135 mil laut (250km) di Perairan Samudera Hindia, sebelah barat Sumatera. Yakhont mempunyai jangkauan tembak 300 km dengan kecepatan terbang 2,5 mach, daya ledak 300 kg , ketinggian terbang 14000 meter serta dilengkapi dengan peralatan pendorong supersonic ramjet. FOTO ANTARA/Prasetyo Utomo/spt/11 
 
 

Sabtu, 26 Maret 2011

Rudal Patriot



Di dalam era perang modern yang sarat teknologi militer canggih saat ini, teknologi peluru kendali (rudal) memainkan peran yang penting dan strategis. Rudal menjadi penting dalam satu peperangan karena mempunyai kemampuan menjangkau posisi pihak lawan yang sangat jauh sekaligus menghancurkannya. 

Berbagai jenis rudal dapat dikelompokkan dalam 4 tipe kategori, yaitu: 
  • permukaan ke udara (surface to air), 
  • udara ke udara (air to air), 
  • udara ke permukaan (air to surface) 
  • permukaan ke permukaan (surface to surface).
Salah satu rudal yang telah memiliki “pamor” adalah rudal Patriot (MIM-104) milik Angkatan Bersenjata Amerika Serikat yang dinilai berhasil melaksanakan tugasnya semasa Perang Teluk (Persian Gulf War) dan Perang Irak (Operation Iraqi Freedom) tahun 2003. 

Sebenarnya ide teknologi Patriot sudah dirintis sejak akhir tahun 60-an, dibawah pimpinan Zdzislaw Starostecki, ilmuan AS berdarah Polandia. Rudal Patriot merupakan kombinasi kemampuan sistem radar phased array dan sistem kendali rudal track-via-missile guidance. Namun baru pada tahun 1976 ide tersebut dapat terwujudkan dan tahun 1984 dioperasikan pertama kali oleh Angkatan Bersenjata Amerika dengan fungsi sebagai sistem senjata anti pesawat terbang. 

Istilah Patriot sendiri berasal dari singkatan Phased Array TRacking to Intercept Of Target.

Sekilas Rudal Patriot

Rudal Patriot yang mempunyai “call sign” MIM-104, merupakan tipe rudal jarak menengah permukaan ke udara (medium range surface to air missile) yang dapat beroperasi di segala cuaca dan medan. Oleh Angkatan Bersenjata Amerika, Rudal Patriot dijadikan sebagai bagian dari sistem pertahanan udara dengan “tugas pokoknya” menghancurkan rudal lawan (counter tactical ballistic missiles) atau menghancurkan obyek udara lainnya, seperti pesawat terbang dan sebagainya. 

Rudal Patriot dibuat oleh dua perusahaan spesialis persenjataan militer yaituRaytheon di Massachusetts dan Lockheed Martin di Florida, Amerika Serikat. Rudal Patriot merupakan Rudal andalan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (dan sekutunya) serta memainkan peranan penting dalam memenangkan suatu kancah peperangan. 

Saat ini Rudal Patriot digelar di beberapa negara di luar Amerika Serikat, sepertiJerman, Yunani, Israel, Jepang, Kuwait, Belanda, Saudi Arabia, Taiwan danMesir. 

Rudal Patriot mendapat nama harum, ketika digunakan dalam berbagai operasi selama Perang Teluk, saat itu Rudal Patriot (tipe PAC-2) yang digelar di Kuwait berhasil menghancurkan sejumlah Rudal Scud milik Irak di udara, walaupun ada beberapa juga yang meleset dari target. 

Sehingga Rudal PAC-2 kemudian di upgrade menjadi rudal PAC-3 dan Rudal GEM+ (Guidence Enhanced Missiles) dengan sistem radar dan kendali Rudal yang lebih akurat dan canggih, berdaya jangkau hingga 300 km. 
Rudal Patriot pertama kali digunakan dalam perang pada tanggal 18 Januari 1991, ketika satu Rudal Patriot sukses mengintersepsi sekaligus menghancurkan satu Rudal Scud milik Irak di atas udara Saudi Arabia. Bisa dikatakan bahwa saat itulah pertama kalinya terjadi perang Rudal melawan Rudal.

Kemampuan Teknis Rudal Patriot

Rudal Patriot dilengkapi sistem pengendalian Rudal TVM (Track-Via-Missiles)memiliki kemampuan mengidentifikasi sekaligus 100 target Rudal atau obyek udara yang berbeda dan siap diluncurkan dalam waktu kurang dari 9 detik.

Satu stasiun sistem Rudal Patriot terdiri dari 4 komponen, yaitu 
  • sistem radar phase array AN/MPQ-53 (G-band system) berfungsi sebagai “detection to kill” dilengkapi sistem IFF (Identifying Friend or Foe), 
  • satu kotak peluncur Patriot terdiri dari 4 buah Rudal PAC-2 (kemudian di upgrade menjadi PAC-3) ditarik kendaraan M-860 semi-trailer seberat 5 ton, 
  • satu ruang pusat pengendalian Engagement Console Station (ECS) AN/MSQ-104 dengan awak operatornya
  • sistem komunikasi dengan antena Mast 4 kW UHF yang menyatu dengan kendaraan pengangkut.
Sementara satu stasiun Patriot dapat terdiri dari 8 kotak peluncur, sehingga memiliki total Rudal sebanyak 32 yang siap dioperasikan. Sistem radar Patriot dikenal tercanggih saat ini terutama untuk kemampuan sistem tracking obyek udara yang menjadi targetnya. 

Secara teknis, Rudal PAC-2 memiliki panjang 5,31 meter dengan berat 900 kg berbahan bakar solid-fueled, memiliki kecepatan 5 kali kecepatan suara (mach 5) dan dilengkapi dengan hulu ledak seberat 91 kg. Sementara PAC-3 posturnya lebih ramping namun lebih akurat dengan daya jangkau sampai 300 km di ketinggian maksimum 24 km.

Cara Kerja Sistem Rudal Patriot

Seperti terlihat pada gambar 4, cara kerja sistem Rudal Patriot adalah sebagai berikut: Pertama, radar phased array “menyapu langit” untuk mendeteksi adanya obyek udara (target) yang mengancam, sekaligus mengidentifikasi apakah obyek tersebut kawan sendiri atau merupakan rudal, pesawat tempur atau pesawat tanpa awak milik lawan. 

 Jika teman, di layar radar akan terlihat kode-kode tertentu yang selalu berubah setiap hari. Bila lawan yang tidak memancarkan kode-kode tertentu, maka operator rudal akan mempersiapkan penembakan.

Berikutnya, setelah target terdeteksi dan teridentifikasi maka sistem komputer Patriot membuat data tracking Rudal target seperti data tentang, posisi, trakyektori, speed, altitude & heading. Kemudian sistem radar dan komputer memantau terus menerus pergerakan Rudal target, dan selanjutnya operator akan memilih jenis Rudal apa yang akan diluncurkan, apakah Rudal PAC-3 atau GEM+. 

Langkah berikutnya, operator meluncurkan Rudal dari kotak peluncur (missile launcher) dalam waktu kurang dari 9 detik, setelah Rudal meluncur dari tabung peluncur, sepenuhnya akan dipandu oleh sistem radar dan sistem kendali TVM menuju target. Rudal yang diluncurkan tersebut kemudian akan “membaca” sinyal data pergerakan Rudal target dan meneruskan sinyal tersebut ke control station.

Sehingga sistem komputer sekarang tahu secara akurat posisi dari Rudal Pariot maupun Rudal lawan. Terakhir, kalau Rudal yang dipilih operator adalah GEM+ (4 Rudal per launcher) maka warhead Rudal GEM+ akan meledak dekat Rudal target sekaligus menghancurkannya. Apabila Rudal PAC-3 (16 per launcher) yang dipilih operator, maka sifat dari Rudal tersebut adalah direct hit atau langsung menubrukan dirinya ke Rudal target (sasaran). Rudal patriot siap melabrak sasaran dalam jarak 16 sampai 32 km dengan kecepatan menanjak 700 sampai 1400 m/detik.

Jadi, kinerja rudal Patriot sangat ditentukan oleh keberhasilan early warning system atas kedatangan rudal musuh, baik melalui pencitraan radar atau satelit, disamping kemampuan Patriot untuk membentur rudal lawan secara akurat

Spesifikasi Rudal Patriot
  • Panjang rudal 5,2 meter
  • Diameter rudal 41 cm
  • Jangkauan 70 km
  • Berat 900 kg
  • hulu ledak 91 kg
  • 4 sirip berbentuk delta dengan diameter 85 cm
  • Pendorong Single-stage solid fuel rocket motor
  • Keepatan 5 mach
Varian Patriot, ASOJ / SOJC, PAC-2, PAC-2 GEM, GEM / C, GEM / T (atau GEM +) dan PAC-3

Spesifikasi (PAC-1 ) 
Bobot 700 kg
Panjang 5.800 mm
Diameter 410 mm


Kisah Sukses & Kegagalan Rudal Patriot

Berbagai kisah sukses diraih Rudal Patriot selama Perang Teluk (Persian Gulf War) tahun 1991 dan Perang Irak (Operation Iraqi Freedom) tahun 2003, di antaranya berhasil mengintersepsi dan menghancurkan 70% Rudal Scud atau Rudal Al Husein milik Irak langsung di udara, di atas udara Saudi Arabia, Kuwait dan Israel. Hal tersebut secara psikologi menaikkan moril pasukan sekaligus meruntuhkan moril pasukan Irak. 


Namun di balik kisah suksesnya, Rudal Patriot juga mengalami beberapa kisah kegagalan. Contohnya, pada tanggal 25 Februari 1991 satu Rudal Scud Irak berhasil lolos dari cegatan Rudal Patriot dan langsung menghantam barak militer sekutu di Dahran Saudi Arabia, akibatnya sebanyak 28 tentara Amerika dari US Army 14th Quartermaster Detachment tewas seketika. 

Kegagalan berikutnya terjadi pada Perang Irak tahun 2003 (Operation Iraqi Freedom), ketika satu pesawat Tornado Angkatan Udara Inggris dan satu pesawat F/A-18 Hornet Angkatan Laut Amerika yang notabene merupakan kawan sendiri, “berhasil” diintersepsi dan dihancurkan oleh Rudal Patriot. Hal tersebut terjadi karena kesalahan sistem identifikasi IFF Radar Patriot. 

Sedangkan kisah unik lainnya, ketika satu pesawat F-16 Angkatan Udara Amerika juga salah mengidentifikasi satu stasiun Rudal Patriot karena dianggap sebagai baterai Rudal SA-2 milik Irak, selanjutnya dapat diterka pesawat F-16 meluncurkanRudal AGM-88 HARM yang kontan meluluh lantakkan stasiun Rudal Patriot tersebut. 

Namun di balik beberapa kisah kegagalan tersebut, Presiden George W. Bush mengklaim bahwa Rudal Patriot memiliki tingkat kesuksesan hingga 90% selama masa perang. 

Sedangkan Israel sebagai sekutu AS yang kecewa tidak diperbolehkan membeli Rudal Patriot malah membuat sendiri Rudal mirip Patriot dengan nama Rudal Arrow.

Rudal Tomahawk



Tomahawk Land Attack Missile (TLAM) atau Peluru Kendali Serang Darat Tomahawk adalah peluru kendali yang mampu menjangkau hingga jarak 2500 Km, mampu beroperasi di segala cuaca, mempunyai kecepatan subsonik (880 Km/jam) dan mampu di luncurkan dari kapal selam, di kedalaman laut. 

Tomahawk adalah sebuah rudal (peluru kendali) jelajah atau dalam istilah internasional dikenal sebagai Cruise missile buatan Amerika Serikat  yang dipakai oleh angkatan laut AS, (US Navy) 

Dengan panjang 5,56 - 6,25 meter, Tomahawk berbobot antara 1.192,5 kg sampai 1.440 kg. Rudal itu sanggup mengangkut beban untuk hulu ledak konvensional sampai 500 kg.

Mulai di perkenalkan tahun 1970an oleh perusahaan General Dynamics. Awalnya rudal ini dibuat untuk dapat diluncurkan dari kapal selam. Tapi, seiring berkembangnya teknologi, rudal Tomahawk pun turut mendapat polesan sana sini terutama dari sisi teknologi navigasi dan mesin, untuk mampu mengikuti perkembangan jaman. Saat ini Rudal Tomahawk diproduksi oleh pabrik Raytheon dan sebagian lagi di produksi oleh McDonnell Douglas.

Sekarang Tomahawk tidak hanya bisa diluncurkan dari kapal selam , tetapi bisa juga diluncurkan dari moda lain seperti kapal laut, peluncur darat bahkan dari pesawat terbang.

Untuk urusan hulu ledak, rudal ini bisa dipasangi bermacam2 hulu ledak, baik konvensional, TNT maupun nuklir. berat dan ukuran hulu ledak pun bervariasi, tergantung tipe rudal dan kebutuhannya. Tiap-tiap rudal ini mempunyai berat 1.440 kg.

Ada beberapa varian dari Rudal Tomahawk ini, diantaranya adalah ; rudal tomahawk serang darat TLAM-C, rudal tomahawk yang mampu melepaskan bom atau bomblet-dispensing land attack TLAM-D, Rudal tomahawk dengan hulu ledak nuklir ataunuclear land attack TLAM-A dan TLAM-N (tidak dikembangkan), dan Rudal Tomahawk anti kapal permukaan atau Anti-Ship Missile (TASM).

Semua jenis rudal tomahawk menggunakan pemandu : Global Positioning System (GPS), terrain contour matching (TERCOM), agar dapat terbang rendah menyusuri kontur bumi, oleh karenanya tidak jarang rudal ini terbang hanya di ketinggian beberapa puluh meter saja. Deteksi sinar infra merah juga hampir mustahil, karena mesin turbofan hanya memancarkan sedikit sekali panas. Rudal Tomahawk juga dilengkapi sistem Korelasi Pencocokan Area Digital, kontrol Time of Arrival (waktu tempuh), dan mesin turbo.

Rudal itu dapat digunakan untuk menggempur berbagai sasaran tidak bergerak, seperti pusat-pusat komunikasi dan pertahanan udara, termasuk sasaran yang sangat sulit sekalipun. Untuk menggempur sasaran di darat, Tomahawk dituntun oleh radar jarak jauh Tercom dengan kemampuan mengenali kontur daratan. Radar tersebut memakai data peta-peta untuk menentukan posisi rudal tersebut. Jika diperlukan, arah dan posisi rudal bisa dibetulkan agar tepat sasaran.

Akurasi Tinggi

Tomahawk sanggup melakukan operasi serangan tanpa awak jarak jauh, dengan kemampuan tinggi. Ketepatannya bisa dibilang luar biasa, karena sanggup mengenali titik sasaran sangat kecil sekalipun.
Rudal tersebut dapat membawa hulu ledak nuklir atau hulu ledak konvensional. Kapabilitas serbuan AL AS sangat bertumpu pada sistem rudal Tomahawk, karena senjata itu terbukti ampuh untuk misi-misi kontijensi. 

Gempuran Tomahawk diharapkan dapat menghalangi atau menunda gerakan militer lawan, meniadakan kemampuan operasi udara pihak lawan, serta menekan sistem pertahanan udara.

Selain itu, rudal tersebut digunakan untuk menghantam sasaran bernilai tinggi, seperti fasilitas pembangkit listrik, simpul-simpul kontrol dan komando, serta fasilitas penyimpanan dan perakitan senjata.
Jangkauan jelajah rudal tersebut mencapai 1.120 km dengan kecepatan 880 km per jam. Kecepatan tinggi dan jarak tempuh sejauh itu tidak mengurangi akurasinya dalam mencapai sasaran.

Hingga saat ini hanya 3 (tiga) negara yang telah memiliki rudal tomahawk yaitu : Amerika Serikat yang diopersikan oleh US Navy, Inggris yang dioperasikan oleh Royal Navy dan yang terakhir adalah Spanyol.

Angkatan laut Amerika telah menggunakan rudal ini dalam berbagai peperangan “nyata”, wajar kalau rudal ini mendapat gelar battle proven, pengalamannya sudah cukup banyak, dari mulai perang teluk di awal 90-an hingga perang Irak di medio 2000-an. dengan peralatan navigasi yang canggih, akurasi rudal ini tidak perlu diragukan, makanya AL AS tetap setia memakainya walaupun harga per unitnya tidak murah, sekitar 1-1.5 juta Dollar AS.

Pembuatan Rudal Dilakukan Bertahap


Rudal anti kapal C-705 buatan China mempunyai jangkauan 75 km, namun dengan tambahan mesin pendorong kedua mampu melesatkan hingga mencapai 170 km (photo : ClubChina)
JAKARTA – Kerja sama pembuatan peluru kendali jenis C 705 dengan Republik Rakyat China akan dilakukan secara bertahap melalui transfer teknologi dan produksi bersama sampai nantinya Indonesia bisa mencapai kemandirian.
Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) dari China, termasuk peluru kendali jenis C 705, akan diikuti dengan tahapan transfer teknologi serta proses produksi bersama.Peluru kendali ini dipakai untuk perlengkapan persenjataan kapal perang TNI Angkatan Laut. “Di samping kita beli, kita juga harus mengantisipasi dengan joint production,” tegas Sjafrie yang ditemui di sela-sela Jakarta International Defence Dialogue (JIDD) di Jakarta kemarin. Dengan tahapan tersebut, ujarnya, dalam kurun waktu tertentu Indonesia akan mampu memasuki posisi kemandirian dalam memproduksi alutsista jenis rudal.

“Dengan transfer of technology dan joint production, kita akan bisa memasuki kemandirian. Begitulah tahapannya,”jelasnya. Tahapan yang sama, jelas Sjafrie, juga dilakukan saat akan melakukan produksi panser Anoa oleh PT Pindad. “Seperti pada proses panser Pindad. Dulu kan kita tidak bisa membuat. Makanya, kita beli, didukung oleh tim litbang untuk pengembangannya dan akhirnya kita bisa membangun. Yang sekarang masih diimpor yakni gear box dan mesinnya saja,”paparnya. Sedangkan untuk teknis pelaksanaan kerja sama, menurut Sjafrie, akan dibahas oleh pejabat setingkat direktur jenderal, baik untuk pembelian serta proses transfer teknologi serta produksi bersama. “Untuk pembelian, nantinya akan diurus oleh Badan Sarana Pertahanan dan transfer teknologinya oleh Dirjen Potensi Pertahanan,”jelasnya.

Rudal anti kapal C-802 buatan China mempunyai jangkauan 120km, tipe terbarunya C-802A mampu menjangkau sasaran 180 km (photo : ClubChina)
Sjafrie melanjutkan, kesepakatan untuk melakukan transfer teknologi dan produksi bersama peralatan militer dengan pabrik persenjataan yang ada di China merupakan salah satu butir dari nota kesepahaman yang telah ditandatangani oleh Kementerian Pertahanan Indonesia dengan Badan Negara Urusan Ilmu Pengetahuan,Teknologi, dan Industri Pertahanan Nasional Republik Rakyat China (SASTIND) di Jakarta pada Selasa (22/3). “SASTIND ini merupakan regulator peralatan-peralatan militer yang mau diekspor keluar. Dia yang mengatakan ya atau tidaknya peralatan diekspor keluar negeri. Dia yang membawahi pabrik-pabrik yang memproduksi peralatan militer,”paparnya.

Secara terpisah, peneliti alutsista PT Pindad Bandung, Wien Intarto, mengatakan, pembuatan peluru kendali memerlukan kerja sama antarindustri pertahanan. “Jadi, tidak bisa dilakukan oleh Pindad saja atau PT DI saja,”paparnya. Dia menambahkan, PT Pindad bisa disiapkan untuk memproduksi badan rudal, peluncur, mekanik, serta war head, sedangkan pengendali tetap harus diserahkan pada industri pertahanan lainnya

Indonesia-China Produksi Bersama Rudal C-802


Rudal permukaan ke permukaan/anti kapal C-802 (photo : Zhenguan)

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat China sepakat untuk meningkatkan kerja sama pertahanan termasuk produksi bersama peluru kendali.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Midhio di Jakarta Selasa mengatakan, penjajakan produksi bersama rudal itu telah dilakukan kedua pihak.

Ditemui usai menghadiri penandatangan nota kesepahaman kerja sama teknis pertahanan RI-China ia mengatakan, Indonesia telah menggunakan rudal C-802 buatan Negeri Panda itu untuk mempersenjatai beberapa kapal perangnya.

"Kedepan kita sepakat untuk memproduksi bersama rudal tersebut, yakni dengan menggandeng PT Pindad," ujarnya.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Badan Pengembangan Teknologi dan industri nasional pertahanan China, Chen Qiufa

Nota kesepahaman itu mencakup lima poin yakni pengadaan alat utama sistem persenjataan tertentu yang disepakati kedua pihak dalam kerangka "G to G".

Kedua, alih tekonologi peralatan militer tertentu yang antara lain mencakup perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, up grade dan pelatihan.

Tiga poin lainnya adalah kerja sama produk peralatan militer tertentu, pengembangan bersama peralatan militer tertentu serta pemasaran bersama dalam dan di luar negara masing-masing, kata I Wayan Midhio.(R018/S026)

Selasa, 22 Maret 2011

Indonesia - China Produksi Bersama Rudal C-802



JAKARTA - Pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat China sepakat untuk meningkatkan kerja sama pertahanan termasuk produksi bersama rudal.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Midhio di Jakarta Selasa (22/3) mengatakan, penjajakan produksi bersama rudal itu telah dilakukan kedua pihak.

Ditemui usai menghadiri penandatangan nota kesepahaman kerja sama teknis pertahanan RI-China ia mengatakan, Indonesia telah menggunakan rudal anti kapal C-802 buatan China itu untuk mempersenjatai beberapa kapal perangnya.

"Kedepan kita sepakat untuk memproduksi bersama rudal tersebut, yakni dengan menggandeng PT Pindad," ujarnya.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Badan Pengembangan Teknologi dan industri nasional pertahanan China, Chen Qiufa.

Nota kesepahaman itu mencakup lima poin yakni pengadaan alutsista tertentu yang disepakati kedua pihak dalam kerangka "G to G".

Kedua, alih tekonologi peralatan militer tertentu yang antara lain mencakup perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, up grade dan pelatihan.

Tiga poin lainnya adalah kerja sama produk peralatan militer tertentu, pengembangan bersama peralatan militer tertentu serta pemasaran bersama dalam dan di luar negara masing-masing, kata I Wayan Midhio.

Senin, 21 Maret 2011

Macam-macam Peluru Kendali/Missile

Peluru kendali (disingkat: rudal), peluru berpandu atau misil adalah senjata roket militer yang bisa dikendalikan atau memiliki sistem pengendali otomatis untuk mencari target atau menyesuaikan arah. Dalam penggunaan sehari-hari, istilah “misil” merujuk kepada roket dengan sistem kendali, sedangkan “roket” digunakan untuk roket tanpa sistem kendali. Perbedaan utama di antara dianggap sangat sedikit selain perbedaan sistem kendali.
Peluru kendali pertama digunakan dalam sebuah operasi adalah peluru kendali Jerman dalam Perang Dunia II. Yang paling terkenal adalah V-1 dan V-2, keduanya menggunakan sistem autopilot sederhana untuk menjaga arah terbang peluru agar tetap pada yang rute telah ditentukan sebelumnya.

Jenis Peluru Kendali
  1. Peluru kendali balistik
    Peluru kendali balistik adalah peluru kendali yang memakai lintasan trayektori yang ditentukan oleh balistik dalam sistem pengirimannya. Peluru kendali ini hanya dikendalikan dalam masa peluncuran saja. Peluru kendali balistik yang pertama adalah roket V-2 yang dikembangkan oleh Nazi Jerman pada 1930-an dan 1940-an atas instruksi dari Walter Dornberger. Peluru kendali balistik dapat diluncurkan dari lokasi tetap seperti silo misil, kendaraan peluncur, pesawat, kapal atau kapal selam. Tahap peluncuran dapat berlangsung dari puluhan detik sampai beberapa menit dan dapat terdiri sampai dengan tiga tingkat roket. Trayektori rudal balistik terdiri dari tiga tahap yaitu tahap peluncuran, tahap terbang bebas dan fase memasuki kembali atmosfir Bumi.
    [spoiler=Rudal Balistik][/spoiler]
  2. Peluru kendali jelajahPeluru kendali jelajah adalah peluru kendali yang memakai sayap dan menggunakan jet sebagai tenaga penggerak. Peluru kendali jelajah intinya adalah bom terbang. Peluru kendali jelajah dirancang untuk membawa hulu ledak konvensional dalam jumlah besar atau nuklir dan dapat menjangkau ratusan mil dengan tingkat akurasi tinggi. Peluru kendali jelajah modern dapat terbang mencapai kecepatan supersonik atau di atas subsonik, menggunakan sistem kendali otomatis dan terbang pada ketinggian rendah untuk menghindari radar. Rudal jelajah pertama yang dikembangkan adalah Kettering Bug yang dikembangkan oleh Amerika Serikat pada 1917 untuk digunakan dalam Perang Dunia I. Rudal ini terbang lurus untuk waktu yang telah ditentukan sebelumnya kemudian sayapnya akan dilepaskan untuk kemudian badan rudal yang mengandung hulu ledak jatuh menghujam tanah. Rudal ini tidak pernah digunakan dalam perang karena Perang Dunia I selesai sebelum rudal ini dapat digunakan. Rudal jenis ini yang terkenal antara lain adalah BGM-109 Tomahawk AS yang dapat mencapai jangkauan 1.100 km.
    [spoiler=Jelajah][/spoiler]
  3. Peluru kendali anti-kapalPeluru kendali anti-kapal adalah rudal yang fungsi utamanya adalah untuk menghancurkan kapal permukaan. Kebanyakan rudal anti-kapal menggunakan sistem pemandu inersial dan pelacak radar aktif. Rudal anti-kapal adalah salah satu dari sekian rudal jarak pendek yang digunakan dalam Perang Dunia II. Jerman menggunakannya untuk menenggalamkan banyak kapal sekutu sebelum pihak sekutu menemukan cara untuk mengatasinya (prinsipnya dengan radio jamming). Rudal anti-kapal dapat diluncurkan dari kapal, kapal selam, pesawat, helikopter dan kendaraan darat. Rudal anti-kapal yang terkenal dalam sejarah adalah rudal Jerman, Fritz X dan Henschel Hs 293.
    [spoiler=Anti Kapal][/spoiler]
  4. Peluru kendali darat ke udaraPeluru kendali darat ke udara adalah peluru kendali yang diluncurkan dari darat untuk menghancurkan pesawat. Istilah terkenal untuk rudal jenis ini adalah SAM yang merupakan singkatan dari rudal darat ke udara dalam bahasa Inggris yaitu suface-to-air missile. Rudal darat ke udara dapat diluncurkan dari lokasi tetap atau kendaraan peluncur. SAM terkecil yang dikembangkan oleh Uni Soviet dapat dibawa dan diluncurkan oleh seorang tentara. SAM juga dapat diluncurkan dari kapal, contoh dari jenis ini adalah Aegis.
    [spoiler=Darat ke udara][/spoiler]
    TNI ALSS-N-26 Yakhont antiship cruise missile
    SS-N-26 Yakhont antiship cruise missile
    Beruntunglah TNI AL karena rudal antikapal permukaan terbaru dan tercanggih buatan Rusia, SS-N-26 Yakhont, sudah masuk dalam inventori arsenalnya. Rudal yang mampu melumat sasaran pada jarak maksimum 300 km dan jarak minimum 50 km ini dikabarkan sudah terpasang di salah satu fregat kita dan dalam waktu dekat akan diuji coba penembakannya. Rudal Yakhont dengan dimensi panjang 8,9 meter dan diameter 0,7 meter mampu melesat pada kecepatan Mach 2,5 dengan bobot luncur rudal seberat tiga ton.
    Yakhont SS-N-26Pembelian rudal Yakhont melengkapi inventori rudal C-802 yang juga sudah dimiliki. Dengan demikian, TNI AL paling tidak sudah punya taring-taring tajam yang baru untuk menggasak lawan. Rudal C-802 buatan China, punya kode Yingji-82 (Serangan Elang), mampu menggasak sasaran berupa kapal permukaan hingga jarak maksimum 120 km. Rudal menjelajah menuju sasaran dalam ketinggian 5-7 meter di atas permukaan air laut dengan kecepatan Mach 0,9.
    Selain kedua rudal tadi, TNI AL masih punya beragam jenis torpedo, rudal Harpoon, dan Exocet, meriam 120 mm, 76 mm, 57 mm, 40 mm, 20 mm, hingga yang paling kecil senapan mesin 12,7 mm. Lalu ada juga bom laut, RBU-6000, ASRL/ASROC, Mistral dan sebagainya. Rudal Harpoon maupun Exocet sudah beberapa kali diuji coba, demikian juga dengan roket anti kapal selam RBU-6000.
  5. Peluru kendali udara ke udaraPeluru kendali udara ke udara adalah rudal yang dipasang di pesawat terbang dengan target menghancurkan pesawat musuh. Rudal udara ke udara yang terkenal antara lain adalah AIM-9 Sidewinder buatan Amerika Serikat. Rudal jenis ini dapat mendeteksi target dengan menggunakan pelacak radar, inframerah atau laser. Rudal udara ke udara umumnya berbentuk panjang, silinder tipis untuk mengurangi efek gesekan pada kecepatan tinggi. Rudal ini umumnya digerakkan oleh satu atau lebih roket berbahan bakar padat atau cair. MBDA Meteor buatan Britania Raya menggunakan ramjet dan dapat mencapai kecepatan Mach 4.
    [spoiler=Udara ke Udara][/spoiler]
  6. Peluru kendali anti-tankPeluru kendali anti-tank adalah rudal yang fungsi utamanya untuk menghancurkan tank atau kendaraan lapis baja lainnya. Rudal anti-tank generasi pertama seperti AG-3 Sagger dikendalikan dengan menggunakan joystick. Rudal anti-tank generasi kedua seperti BGM-71 TOW dan AGM-114 Hellfire menggunakan radio, penanda laser atau kamera di ujung rudal. Rudal anti-tank generasi ketiga seperti FGM-148 Javelin buatan AS dan Nag buatan India adalah dari jenis “tembak dan lupakan”. Nag menggunakan pelacak inframerah serta gelombang milimeter.
    [spoiler=Anti Tank][/spoiler]
  7. Peluru kendali anti-balistikPeluru kendali anti-balistik adalah peluru kendali dengan fungsi utama untuk menyergap dan menghancurkan peluru kendali balistik lawan. Rudal anti-balistik jarak pendek antara lain Arrow buatan Israel dan MIM-104 Patriot buatan AS. Sedangkan rudal anti-balistik yang dirancang untuk melawan ICBM sebelumnya hanya ada dua yaitu Safeguard AS yang menggunakan LIM-49A Spartan dan Sprint serta A-35 Rusia. A-35 kemudian dikembangkan menjadi A-135 yang menggunakan Gorgon dan Gazelle. Amerika Serikat kemudian mengembangkan Ground-Based Midcourse Defense.
    [spoiler=Anti Balistik][/spoiler]
  8. Peluru kendali anti-satelitPeluru kendali anti-satelit adalah rudal yang memiliki fungsi untuk menghancurkan satelit buatan musuh. Rudal jenis ini antara lain adalah Anti-satellite weapons (ASAT) yang diluncurkan dari pesawat. Rudal jenis ini relatif masih dalam tahap pengembangan.
    [spoiler=Anti Satelit][/spoiler]
  9. TorpedoTorpedo adalah proyektil berpenggerak sendiri yang diluncurkan dari atas permukaan atau di bawah permukaan air yang kemudian meluncur di bawah permukaan air, dirancang untuk meledak pada kontak atau jarak tertentu dengan target. Torpedo dapat diluncurkan dari kapal, kapal selam, helikopter, pesawat dan ranjau laut. Beberapa contoh torpedo modern antara lain MK 48 AS yang diluncurkan dari tabung torpedo kapal selam dan menggunakan sonar pasif atau aktif, serta VA-111 Shkval buatan Rusia yang menggunakan efek superkavitasi dapat mencapai kecepatan 200 knot atau 370 km/jam.
    [spoiler=torpedo][/spoiler]

Jumat, 11 Maret 2011

Myanmar, Korea Utara di Nexus Missile


Sebuah rudal Scud di pabrik rudal bawah tanah yang kemudian dilaporkan oleh delegasi Myanmar menunjukkan terletak di sebuah wilayah terpencil di luar Pyongyang. Rudal itu dianggap menjadi Scud-D (kisaran 500 km), atau Scud-E (kisaran 700-1000km), baik perbaikan atas desain Soviet asli. (Foto: Yoo Yong Won Militer Dunia)
BANGKOK - Militer Myanmar yang dikelola tumbuh ambisi senjata, termasuk wahyu baru bahwa rezim tertutup memproduksi jangka panjang tipe rudal Scud dengan bantuan Korea Utara, mengancam untuk mengacaukan wilayah tersebut dan membuat negara Asia Tenggara global hotspot proliferasi senjata baru.
Menurut informasi eksklusif yang diterima oleh Asia Times Online, salah satu dari dua pabrik amunisi terletak di dekat kota kecil Minhla di tepi barat Sungai Ayeyarwady, selatan Minbu di Magway Divisi, yang terlibat dalam produksi rudal tipe Scud-canggih. Korea Utara dilaporkan ahli membantu sendiri militer teknisi Myanmar di proyek top-rahasia.

Dikenal sebagai ka pa sa, singkatan dari bahasa inisial Burma dari Direktorat Pertahanan Industries, pabrik senjata negara itu telah selama beberapa dekade diproduksi persenjataan dasar bagi militer.Tapi ka pa sa 2 dan 10 dekat Minhla sekarang mengaduk-aduk senjata yang lebih maju, termasuk jenis rudal Scud, daripada negara telah sampai saat ini. Ini lebih sulit untuk mendeteksi dari udara karena mereka berada sebagian bawah tanah.

A-bersenjata Myanmar Scud akan menempatkan kemampuan lekukan yang signifikan di atas Asia Tenggara tetangganya, yang tidak memiliki jangka panjang rudal tersebut. Wahyu bisa memicu perlombaan senjata regional, mendorong negara-negara tetangga seperti Thailand untuk mengembangkan atau membeli persenjataan rudal mereka sendiri.

Keberadaan dua pabrik yang dicantumkan dalam 27, 2004 Amerika Serikat kabel kedutaan Agustus dari Yangon, yang dibuat publik oleh WikiLeaks akhir tahun lalu. Salah satu sumber Kedutaan Besar AS mengklaim bahwa para pekerja Korea Utara sedang berkumpul-to-air rudal permukaan pada "sebuah situs militer di Divisi Magway" dimana "diperkuat bawah tanah fasilitas-beton" juga sedang dibangun.
sumber mengatakan kepada kedutaan bahwa "ia melihat sebuah tongkang besar membawa batang baja dengan diameter yang mengusulkan proyek lebih besar dari sebuah pabrik".

Asia Times Online telah menemukan bahwa situs yang disebut dalam kabel kedutaan adalah ka pa sa 10, terletak dekat desa Konegyi di perkampungan Minhla. Pembangunan situs ini dimulai pada 1993, namun baru-baru ini telah selesai. Situs ini dilaporkan meliputi 6.000 hektar (2.428 hektar) dan, menurut sumber yang digunakan untuk bekerja di fasilitas, tujuannya adalah untuk menghasilkan permukaan-ke-udara, permukaan-ke-permukaan dan-ke-udara rudal udara.

Sumber yang sama, yang meminta namanya untuk alasan keamanan pribadi, mengklaim bahwa Korea Utara bekerja di situs ini pertama kali memasuki Myanmar diam-diam melalui jalan darat dari Cina. Mereka bertemu di perbatasan dan kemudian dibawa ke Minhla oleh petugas dari Myanmar Pertahanan Direktorat Produksi, dikenal sebagai htone ka ka, menurut sumber tersebut.

Di sisi Myanmar, dan 900 teknisi 600 antara tentara dan personil militer lainnya saat ini berbasis di ka pa sa 10. Rusia dan Cina teknisi Awalnya juga mengambil bagian dalam fasilitas konstruksi, tetapi mereka tampaknya telah sejak kiri dan telah digantikan dengan pakar Korea Utara.

Ka pa sa 2 kontrol tidak kurang dari 100.000 hektar tanah di dekat desa Malun, yang juga berbasis di kota Minhla. Menurut sumber, pabrik tua agak mempekerjakan 900 insinyur dan personil militer lainnya dan menghasilkan 60mm, 81mm dan 120mm mortir dan artileri 105mm.

Kompleks ini juga mencakup lapangan tembak yang besar di mana senjata berat, termasuk artileri dan roket, yang diuji. Menurut sumber, Singapura, sebagai negara pulau kecil yang tidak memiliki cukup ruang untuk pengujian tersebut, dibayar untuk pembangunan lapangan tembak. Senjata juga dibawa dari Singapura dan diuji di lapangan.

Nama permainan

Pada tanggal 4 Oktober tahun lalu, bahasa Inggris mingguan Myanmar Times melaporkan bahwa pihak berwenang Myanmar telah diresmikan pada tanggal 19 September sebuah "bagian 25,4 mil, atau sekitar 40 kilometer, dari kereta api antara Minhla di Gratis Daerah dan Minbu di Magwe Daerah". Konstruksi bagian baru, "yang merupakan bagian dari Railroad Kyangin-Pakokku Proyek yang sedang berlangsung di sepanjang tepi barat Sungai Ayeyarwady", dimulai pada bulan April 2007, menurut laporan berita yang sama.

Proyek infrastruktur's Pembukaan ini dipimpin oleh perdana menteri itu, sekarang Presiden Thein Sein, menggarisbawahi pentingnya jelas dari link rel pendek. Menurut Times Myanmar, Thein Sein juga menyatakan bahwa kereta api akan memungkinkan "orang-orang untuk memiliki akses yang mudah ke berbagai wilayah bangsa".

Masalah dengan laporan adalah bahwa Minhla di Daerah Baru terletak beberapa mil sebelah timur Ayeyarwady, dan hampir 200 mil atau, lebih dari 300 kilometer, selatan Minbu. Disengaja atau sebaliknya, laporan bingung lokasi dari dua kota yang memiliki nama yang sama. A-40 kilometer rel kereta api antara bagian atas "Minhla" di tepi barat - satunya bentangan rel kereta api di sisi sungai - dan Minbu hanya bisa melayani satu tujuan utama: untuk mengangkut barang berat yang relevan untuk memproduksi jenis rudal Scud atau memasok nuklir program untuk dan dari Minbu, sebuah pelabuhan utama di Sungai Irrawaddy.

Sejauh ini, bagaimanapun, tidak ada laporan yang menunjukkan bahwa dua ka Minhla's pa fasilitas sa terlibat dalam's baru lahir Myanmar dan program nuklir klandestin. Penelitian yang dilaporkan dilakukan pada Myaing di sebelah utara Pakokku, yang juga di Divisi Magway tapi jauh dari fasilitas Minhla. Kemajuan penelitian nuklir Myanmar tidak diketahui, tetapi diyakini berada di masa kanak-kanak dan secara luas dianggap sebagai angan-angan yg khayal yang tidak mungkin untuk berhasil dalam mengembangkan senjata nuklir.

Namun, keterlibatan Korea Utara dalam ka pa sa 2 dapat menjadi perhatian internasional - bahkan untuk militer mitra tradisional Myanmar, Cina.

Pada 1990-an, Cina memasok Myanmar dengan antara US $ 1 milyar dan $ 2 milyar perangkat keras militer. Daftar persenjataan yang diimpor termasuk 80 Jenis-69II-pertempuran tank menengah, lebih dari 100 Tipe-63 tank ringan, 250 Type-85 pengangkut personel lapis baja, peluncuran roket beberapa sistem, howitzer, senjata anti-pesawat, HN-5 permukaan-ke -udara rudal, mortir, senapan serbu, senjata recoilless, roket peluncur granat, JLP-50 dan-43 radar pertahanan udara JLG, truk berat, Chengdu F-7M Airguard jet tempur, FT-7 dan 6 FT-pelatih jet, -5C darat Sebuah serangan pesawat, 8D transportasi pesawat-SACY, kapal patroli kelas Hainan, kelas dipandu rudal cepat Houxin-serangan kerajinan, penyapu ranjau dan kapal perang kecil. Pada tahun 2000, Tiongkok mengirimkan 12 Karakoram-8 pelatih / pesawat serangan darat, yang diproduksi dalam kerjasama dengan Pakistan.

Sejak itu, bagaimanapun, tampak bahwa pengiriman peralatan militer Cina telah berkurang secara signifikan. Namun, pada bulan November 2007, segera setelah tindakan keras pada gerakan protes luas yang dipimpin oleh para biksu Budha, Cina disediakan Myanmar dengan howitzer dan peralatan deteksi bom.

Menurut 18, 2011, laporan Februari oleh Kongres AS Research Service (CRS), Cina yang diikuti dengan sebuah pengiriman 450 truk militer pada bulan Desember 2007. Pada bulan Januari 2008, Cina mengirim lagi 500 truk militer ke Myanmar dan pada bulan Agustus tahun yang sama disediakan sebuah truk militer tambahan 3.500 dengan suku cadang. Pada tahun 2009, Tiongkok mengirimkan lima truk militer besar dan pada bulan Maret tahun lalu mengirim militer tambahan kendaraan menggunakan 400.

Bahwa kerjasama bilateral ditegaskan kembali September lalu, ketika pemimpin junta Myanmar Jenderal Than Shwe melakukan perjalanan ke China, seolah-olah untuk memperbarui berwenang di Beijing pada pemilihan mendatang negaranya, yang diselenggarakan pada bulan November.
Selama kunjungan, Than Shwe juga diperiksa Huawei Technologies, yang CRS mengatakan telah memasok militer Myanmar dengan peralatan komunikasi. Pada akhir tahun lalu, angkatan udara Myanmar setuju untuk membeli 50 K-8 pelatih jet dari Cina; CRS berspekulasi bahwa beberapa pekerjaan untuk pesanan perakitan akan dilakukan di Myanmar.

Sementara Cina tetap menjadi pemain utama dalam ekspansi masih berlangsung pasukan militer Myanmar, maka tidak ada lagi militer mitra utama Myanmar. Rezim di Naypyidaw semakin beralih ke Korea Utara untuk bantuan dalam penelitian militer klandestin dan produksi senjata yang lebih canggih, yang tampaknya berada di atas junta daftar prioritas strategis. Sebagai terkena fasilitas Utara Korea-staf baru menunjukkan,'s jenderal Myanmar memancing untuk diversifikasi sumber-sumber hardware dan know-how. 

Jumat, 18 Februari 2011

Kodam I/BB Membentuk Batalyon Armed Roket dan Arhanud Rudal

WR-40 Langusta, jenis peluncur roket multi laras buatan Polandia yang akan digunakan oleh TNI AD(photo : Agencja Gazeta)

Kodam I/BB Sosialisasikan Kebijakan Pimpinan
MEDAN - Komando Daerah Militer I Bukit Barisan menyosilisasikan pokok-pokok pikiran pimpinan Angkatan Darat dalam Rapat Pimpinan yang diiikuti seluruh komandan satuan tempur dan kewilayahan di wilayah Sumatera Bagian Utara di Medan, Rabu.

Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Leo Siegers mengatakan, Rapat Pimpinan (Rapim) itu juga merupakan wahana untuk menyampaikan kebijakan Kodam guna penyusunan program kerja.

Menurut Pangdam, pimpinan TNI-AD telah menetapkan tiga kebijakan untuk mencapai postur TNI sesuai Pembangunan Kekuatan Minimum (Minimum Essential Force/MEF).

Ketiga kebijakan itu adalah pembangunan kekuatan yang meliputi penguatan organisasi, personel, materiil, fasilitas dan pengkalan, jasa dan piranti lunak. Kemudian, kebijakan pembangunan kemampuan meliputi kemampua intelijen, tempur, pembinaan teritorial dan pemberian dukungan bantuan.

Setelah itu, kebijakan gelar satuan yang diarahkan untuk menata dan mengembangkan organisasi, termasuk menambah kekuatan kewilayahan. Kebijakan itu dilakukan dengan memprioritaskan validitas kesatuan Batalyon Artileri Medan (Yonarmed) 2 menjadi Yonarmed Roket 2 yang bermarkas di kawasan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Sumut.

Demikian juga dengan validasi Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang (Arhanudse) 13 menjadi Arhanudse Rudal 13 yang bermarkas di Pekanbaru, Riau.Di akhir tahun, akan dilakukan penilaian tentang tingkat keberhasilan dalam menjalankan pokok-pokok pikiran pimpinan TNI AD, termasuk di jajaran Kodam I Bukit Barisan.

"Nanti, Kasdam (I Bukit Barisan Brigjen TNI Murdjito) yang akan mengumumkan, mana yang kurang," kata Mayjen TNI Leo Siegers.

Rapim itu diselenggarakan di Balai Prajurit Makodam I Bukit Barisan yang diikuti seluruh komandan satuan tempur dan kewilayahan dari empat provinsi di wilayah Sumbagut yakni Sumut, Sumbar, Riau dan Kepri

Senin, 14 Februari 2011

Lockheed Martin Successfully Tests First GMLRS+ Rocket


 Lockheed Martin successfully launched a Guided Multiple Launch Rocket System Plus (GMLRS+) rocket recently in a test at White Sands Missile Range, NM.
The GMLRS+ rocket, which is equipped with a Semi-Active Laser (SAL) seeker, was fired from the High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) launcher. The rocket flew approximately 40 kilometers downrange, acquired the laser designated target and diverted over 150 meters to the target.
The GMLRS+ rocket is a Lockheed Martin internal research and development program to incrementally improve the combat-proven GMLRS Unitary program. GMLRS+ is anticipated to address operational needs including increased range, scalable effects and fleeting targets.
“We have a very high degree of confidence in the GMLRS program, based upon the tremendous track record of this combat-proven system,” said Scott Arnold, vice president of Precision Fires at Lockheed Martin Missiles and Fire Control. “As this GMLRS+ flight test demonstrated, we are adding new capabilities to the combat-proven GMLRS, giving the warfighter another highly reliable and accurate precision engagement weapon.”
Primary objectives for this GMLRS+ flight test were to demonstrate target acquisition and the ability to divert the missile to a laser-designated target; obtain technical data to support verification of the performance of the GMLRS+ rocket; and to validate seeker, rocket and launcher system software. Preliminary data indicate all test objectives were achieved. Additional launches of the improved GMLRS+ rocket are scheduled for 2011.
The current GMLRS Unitary rocket is successfully meeting the needs of the U.S. Army, U.S. Marine Corps and British Army artillery units in theater. To date, more than 1,900 GMLRS rounds have been fired in support of troops in ongoing military operations.
GMLRS is the world’s premier long-range precision artillery rocket designed specifically for destroying high-priority targets at ranges up to 70 kilometers. Successfully employed in both urban and non-urban environments, it is able to operate in all climate and light conditions while remaining beyond the range of most conventional weapons. Each GMLRS missile is packaged in a MLRS launch pod and is fired from the MLRS Family of Launchers.