Tampilkan postingan dengan label Australia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Australia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2011

Angkatan Pertahanan Australia Harus Bangun Kapal selam, Says Analis


HMAS Waller, salah satu kapal selam kelas Collins (Foto: Industri Pertahanan Harian)


Plea untuk membangun kapal selam sekarang atau gap risiko dalam pertahanan
AUSTRALIA harus kick-mulai membangun 12 kapal selam jarak jauh baru atau risiko celah dalam pertahanan maritim, seorang analis pertahanan mengatakan.
Kapal selam itu diumumkan sebagai pengganti bagi kapal kelas Collins sebagai bagian dari Pertahanan Kertas Putih 2009, tetapi proyek ini telah dilakukan sejak''tanda''waktu, Andrew Davies dari Institut Kebijakan Strategis Australia mengatakan dalam sebuah makalah.


''Untuk mereka yang dekat dengan dunia desain kapal selam dan operasi, jam sudah berdetak pada tahun 2009.


''Waktu-lead untuk merancang, membangun, menguji dan mengevaluasi sebuah kapal selam baru mungkin 15 tahun atau lebih, hampir sama dengan harapan sisa umur armada Collins. Waktu sudah habis.''


Dr Davies mengatakan bahwa jika pembangunan kapal selam mulai sekarang, ke-12 tidak akan disampaikan sampai 2030, yang secara kasar saat yang sama kelas Collins yang dijadwalkan akan dinonaktifkan.


Kelas Collins itu sendiri adalah contoh dari cara jadwal kapal selam bisa meniup, dengan kapal keenam dan terakhir disampaikan 21 tahun setelah keputusan untuk membangun dibuat.


Dr Davies mengatakan mungkin ada godaan dalam pemerintah untuk menunda pada bangunan kapal selam, sebuah proyek yang bisa biaya $ 36 miliar, sebagai kelas Collins tampaknya akan keluar setelah fase panjang''''salah urus yang parah, tapi itu akan menjadi suatu kesalahan.


''Namun, pendekatan yang menjalankan risiko meninggalkan gap antara akhirnya run-down dari armada Collins dan pengenalan penggantinya. Dan kami sudah ada sebelumnya.''

Jumat, 18 Februari 2011

Babcock AWD Torpedo Launcher Contract Moves Into Next Phase

Mk32 Mod torpedo launcher (photo : Naval History)

Assembly of the Mk32 Mod 9 torpedo launchers for the Hobart Class Air Warfare Destroyers is now underway at Babcock's Techport Australia premises, marking an important milestone in the contract. Babcock Pty Ltd, part of Babcock International Group, was awarded the contract in December 2008 by Raytheon Australia Pty Ltd, on behalf of the Air Warfare Destroyer (AWD) Alliance.

Two Mk32 Mod 9 torpedo launcher assemblies will be mounted in magazine compartments, port and starboard, on each of the three Hobart class AWDs. Originally designed for the US Navy, the Mod 9 launcher is a twin barrelled variant of the Mk32 launchers currently in operation on Anzac and FFG frigates in Australia and will be modified to discharge Eurotorp MU90 torpedoes.

Babcock engineers and technicians are now commencing assembly of the launchers, which will take around seven months for all six launchers (three ship sets), and will be followed by Factory Acceptance Testing (FAT) of each set at Babcock's newly developed facility at Techport, South Australia. FAT will involve safety and interlock checks and the measurement of additional system parameters during the discharge of a dummy weapon from the launchers into a specially designed rig.
The Anti Submarine Torpedo MU-90 M/04 in its transport cannister (Photo : EuroTorp)
Under the contract to date, the first phase has seen Babcock working closely with the US Naval Underwater Weapons Centre at Rhode Island, and transfer of a technical data pack to Australia under a license granted by the US Department of State, in accordance with appropriate US International Traffic in Arms Regulations (ITAR). The data pack provides the basis for the procurement, manufacture, assembly and test of the equipment in Australia. Babcock now has the system and processes in place to handle ITAR controlled design information and procure ITAR controlled hardware through its US network.

Manufacture of component parts, including barrels, quadrants, breech locking rings, and air charging panels, as well as a number of major sub-assemblies, has also been on-going during the first phase of the contract. While some equipment has been sourced from specialist international suppliers, all other work is being carried out in Australia, representing around 60% of the contract value.

"Having the component parts and sub-assemblies arrive at our Techport Australia site, and starting the assembly process, marks an exciting and important milestone in this contract," Babcock director Pat Donovan comments. "Delivery of the completed launchers is on track against our project schedule, and ahead of the customer's required delivery date of September 2011 for the first ship-set."

Senin, 14 Februari 2011

RAAF Ujian Skema Hawk Baru



RAAF's Hawk 127 A27-30 (Foto: DoD Australia)
The RAAF telah mulai uji coba pola kamuflase baru untuk salah satu perusahaan Hawk 127 lead-di pejuang, dalam upaya untuk mengurangi risiko tabrakan udara dengan meningkatkan visibilitas pesawat.
Angkatan Udara Berita 'FLTLT Skye Smith melaporkan bahwa 78WG's HQ keputusan untuk pergi dengan
gelap, dua-nada gloss skema cat untuk Hawk (A27-30) muncul dari sebuah "penilaian risiko operasi" selama operasi keluar dari RAAF Pearce tahun lalu. Meskipun's cat skema pesawat belum secara resmi dinilai, CO 76SQN WGCDR Chris Hake mengatakan Angkatan Udara News bahwa visibilitas keseluruhan ditingkatkan terhadap biasa operasional Hawk latar belakang adalah. "Warna Hawk cat yang ada menggunakan warna cat yang sama seperti F/A-18, namun, Hawk jauh lebih kecil daripada Tawon dan itu aman untuk mengatakan bahwa kamuflase abu-abu sangat efektif," kata Hake WGCDR.
"Jika skema cat persidangan menunjukkan bahwa kita telah memenuhi persyaratan untuk meningkatkan visibilitas dari Angkatan Udara Hawk kemudian dapat memilih untuk mengecat armada dalam skema baru, dimulai dengan berdasarkan Hawks Pearce."
RAAF's elang 127 A27-30 (Foto: Jetphotos: Darren Mottram)
WGCDR Hake mengatakan umpan balik dari kedua tanah berdasarkan pengamat dan udara sejauh ini positif, dengan-30-gelap warna kontras A27 baik terhadap latar belakang langit biru, jauh lebih baik dibandingkan dengan Hawk's ada skema tersebut. kamuflase percobaan serupa telah dilakukan oleh negara-negara lain, seperti Kanada NATO Flying Training Centre lukisan Hawks dalam all-over gloss biru, bertujuan untuk meningkatkan visibilitas dalam kondisi cuaca bersalju.
Hawk dicat ulang akan tetap di RAAF Williamtown sebelum melakukan perjalanan ke Australia Avalon's Internasional Airshow Maret sebagai tampilan statis. Dari sana, akan pindah ke RAAF Pearce untuk operasi pelatihan normal dengan 79SQN.

Minggu, 13 Februari 2011

Canberra Class LHD Siap Diluncurkan


HMAS Canberra (LHD-01) siap untuk diluncurkan pada akhir februari atau awal maret 2011 (all photos : Navantia/RAN)

Dua LHD pesanan Australia untuk konstruksi lambung (hull) dikerjakan oleh Navantia, di Ferrol, Spanyol, sedangkan konstruksi atas (superstucture) akan dikerjakan oleh BAE Systems Australia (dahulu Tenix Defence) di Williamstown, Victoria, Australia. Kapal tersebut diberi nama HMAS Canberra LHD-01 dan HMAS Adelaide LHD-02.


Pada mulanya HMAS Canberra LHD-01 akan diluncurkan pada Maret 2011 namun besar kemungkinan peluncuran kapal ini akan dimajukan pada tanggal 27 Februari 2011. Untuk selanjutnya pengerjaan kapal dari dok kering akan dialihkan ke dok basah. Lambung Canberra diharapkan tiba di Williamstown pada 2012, sedang lambung Adelaide pada 2014.


Canberra dan Adelaide merupakan nama ke-3 bagi kapal Angkatan Laut Australia, Canberra-01 dan Adelaide-01 merupakan kapal perusak/penjelajah D-33 dengan berat 10.000 ton, sedangkan Canberra-02 dan Adelaide-02 merupakan fregat FFG-02 dan FFG-01 dengan berat 4.100 ton.

Canberra class LHD merupakan kapal serbu amfibi dengan bobot 27.000 ton akan merupakan kapal perang terbesar yang pernah dioperasikan oleh Angkatan Laut Australia. Sebelumnya Angkatan Laut Australia pernah mengoperasikan kapal induk HMAS Melbourne dengan bobot 20.000 ton. Kedua kapal ini akan menggantikan Kanimbla class yaitu HMAS Kanimbla dan HMAS Manoora.

Dengan kapal ini Angkatan Laut Australia akan dapat melakukan proyeksi kekuatan untuk serangan amfibi, dukungan udara, transportasi dan pusat komando. Dek kapal mampu untuk mendaratkan 6 helikopter dan secara teoritis dengan ski jump 13 derajat yang dimilikinya maka kapal ini dapat mengoperasikan pesawat V/STOL milik negara sekutu Australia.
Secara umum kapal ini dapat membawa 1.000 pasukan, dapat membawa 16-24 helikopter, 4 LCM (landing craft medium), dan 150 kendaraan termasuk MBT M-1 Abrams. kapal dapat melaju dengan kecepatan 20,5 knot dan menempuh jarak 15.000 km dengan kecepatan 15 knot atau 17.130 km dengan kecepatan 12 knot.

Rabu, 02 Februari 2011

KSAU : Australia Akan Hibahkan 4 Hercules Kepada TNI AU




C-130H RAAF

YOGYAKARTA - Pemerintah Australia akan memberikan hibah empat pesawat Hercules kepada TNI AU, kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat di Yogyakarta, Rabu (2/2).

"Kepala Angkatan Udara Australia telah melakukan kunjungan ke Indonesia pada 27 Januari 2011, dan mereka siap menyerahkan pesawat tersebut," katanya usai memimpin upacara serah terima jabatan Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU) di Yogyakarta.

Menurut dia, dalam kunjungan itu Kepala Angkatan Udara Australia, selain memberikan kuliah kepada taruna AAU, juga melakukan komunikasi dalam rangka realisasi rencana hibah empat pesawat Hercules.

"Proses penyerahan pesawat hibah tersebut tidak akan dilakukan dalam satu waktu, melainkan bertahap hingga 2012. Tahun ini akan diserahkan dua pesawat, kemudian pada 2012 dua pesawat lagi," katanya.

Ia mengatakan, setelah diterima, pesawat Hercules tersebut tidak akan langsung dioperasikan, tetapi harus terlebih dulu masuk depo untuk dilakukan pengecekan.

"Setelah dinyatakan siap untuk pengoperasian, pesawat Hercules tersebut baru diterbangkan untuk mendukung produktivitas kerja TNI AU," kata mantan Gubernur AAU itu.

Menurut dia, pesawat Hercules yang dibutuhkan TNI AU saat ini sebanyak 30 unit. Namun, TNI AU hanya memiliki 21 pesawat Hercules, sehingga masih kurang sembilan pesawat.

"Kekurangan pesawat Hercules itu akan dipenuhi dari hibah dan membeli. Sebanyak 30 pesawat Hercules akan digunakan untuk pesawat tanki sebanyak dua unit, pesawat VIP dua unit, dan pesawat operasional dua batalyon sebanyak 26 unit," katanya.