Tampilkan postingan dengan label Industri Pertahanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Industri Pertahanan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2011

Indonesia Persiapkan Para Ahli Dalam Alih Teknologi Pembuatan Kapal Selam


JAKARTA - Meski pemerintah menargetkan industri pertahanan sudah terbangun pada 2024, Indonesia diharapkan sudah bisa memproduksi kapal selam sendiri pada 2020. Untuk itu, seiring dengan jenis kapal selam yang akan dipilih nantinya, Indonesia akan siap memulai alih teknologi pembuatan kapal selam.

“Tahun ini akan kita siapkan insinyur-insinyur kita untuk proses alih teknologinya,” ujar Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda Susilo, kepada Tempo, Senin (6/6).

Tahap awal proses alih teknologi dilakukan dengan mengirimkan sumber daya manusia dari Indonesia untuk terlibat dalam perakitan kapal selam yang dipesan oleh pemerintah ke negara produsen kapal itu. Tahap berikutnya dari alih teknologi adalah perakitan dan produksi sebagian komponen kapal selam di Indonesia.

Susilo mengatakan tahun ini Indonesia berencana memesan dua kapal selam. Pada pemesanan berikutnya diharapkan perakitan salah satu unit yang dipesan bisa dilakukan di tanah air walaupun komponen dan alat-alat utamanya masih diimpor. "Misalnya kita beli tiga, yang dua diproduksi di sana (negara produsen), satu lagi kita rakit di sini," ujarnya.

Susilo mengatakan saat ini potensi pengembangan kapal selam di Indonesia memang belum ada. Industri kapal di dalam negeri belum menguasai teknologi pembuatan kapal selam maupun sumber daya manusia berupa tenaga ahli. Persoalan lain yang dihadapi untuk mengembangkan industri ini adalah investasi yang diperlukan sangat besar. 



 


Indonesia, kata dia, juga belum memiliki galangan kapal dan kelengkapannya dengan kapasitas yang cukup besar untuk membangun kapal selam. Meskipun ada galangan yang cukup besar, diperlukan perbaikan dan penambahan fasilitas. "Biaya untuk membangun galangan kapal ini lebih besar dari biaya untuk pembelian satu unit kapal selam," kata Susilo.

Juru Bicara Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Silmy Karim mengatakan komite bersama Kementerian Pertahanan akan mendorong beberapa kebijakan untuk mendukung pertumbuhan industri pertahanan nasional. Salah satunya yang akan diusulkan adalah pembebasan bea masuk sparepart untuk industri pertahanan.

Ini dilakukan untuk memicu produksi alat pertahanan oleh perusahaan-perusahaan di dalam negeri. "Sekarang kami sedang menginventarisir komponen apa saja yang perlu diberi pembebasan bea masuk," katanya. Kementerian akan meminta agar peraturan pembebasan dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan khusus komponen pertahanan.

Sabtu, 11 Juni 2011

Kemhan Beri Pembekalan Pada Tim Engineering KF-X




BANDUNG - Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (Sekjen Kemhan) Marsdya TNI Eris Herryanto, S.IP, M.A., memberikan pembekalan kepada Tim Engineering KF-X/IF-X, Kamis (2/6) di Lembang, Bandung.

Tim yang berjumlah 34 Engineers tersebut direncanakan akan diberangkatkan ke Korea Selatan pada bulan Juli 2011 mendatang. Tim yang terdiri dari Kemhan, TNI AU, ITB dan PTDI dikirim dalam rangka pelaksanaan tahap Technology Development Phase. Tahap ini merupakan bagian dari program pengembangan pesawat tempur KF-X/IF-X.

Pesawat tempur KF-X merupakan pesawat tempur baru generasi 4.5++ yang akan dikembangkan bersama antara Indonesia dan Korea Selatan.

"Tim Engineering asal Indonesia yang ditugaskan di sana harus benar-benar profesional, tangguh, penuh motifasi, inisiatif serta berdedikasi tinggi. Untuk mencapai hal tersebut, maka diperlukan pembekalan disamping agar setiap anggota Tim memiliki pemahaman yang sama mengenai apa yang menjadi tugas dari Tim selama di Korea Selatan," ungkap Eris.

Tahun 2020, Indonesia Akan Produksi Kapal Selam


TEMPO Interaktif, Jakarta - Meski pemerintah menargetkan industri pertahanan sudah terbangun pada 2024, Indonesia diharapkan sudah bisa memproduksi kapal selam sendiri pada 2020. Untuk itu, mulai tahun ini Indonesia akan mulai melakukan alih teknologi untuk pembuatan kapal tersebut.

“Tahun ini kita akan kirim insinyur-insinyur untuk memulai proses alih teknologi,” ujar Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda Susilo, kepadaTempo, Senin, 6 Juni 2011.


Tahap awal proses alih teknologi dilakukan dengan mengirimkan sumber daya manusia dari Indonesia untuk terlibat dalam perakitan kapal selam yang dipesan oleh pemerintah ke negara produsen kapal itu. Tahap berikutnya dari alih teknologi adalah perakitan dan produksi sebagian komponen kapal selam di Indonesia.

Susilo mengatakan tahun ini Indonesia berencana memesan dua kapal selam. Pada pemesanan berikutnya diharapkan perakitan salah satu unit yang dipesan bisa dilakukan di tanah air walaupun komponen dan alat-alat utamanya masih diimpor. "Misalnya kita beli tiga, yang dua diproduksi di sana (negara produsen), satu lagi kita rakit di sini," ujarnya.

Susilo mengatakan saat ini potensi pengembangan kapal selam di Indonesia memang belum ada. Industri kapal di dalam negeri belum menguasai teknologi pembuatan kapal selam maupun sumber daya manusia berupa tenaga ahli. Persoalan lain yang dihadapi untuk mengembangkan industri ini adalah investasi yang diperlukan sangat besar.

Indonesia, kata dia, juga belum memiliki galangan kapal dan kelengkapannya dengan kapasitas yang cukup besar untuk membangun kapal selam. Meskipun ada galangan yang cukup besar, diperlukan perbaikan dan penambahan fasilitas. "Biaya untuk membangun galangan kapal ini lebih besar dari biaya untuk pembelian satu unit kapal selam," kata Susilo.

Juru Bicara Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Silmy Karim mengatakan komite bersama Kementerian Pertahanan akan mendorong beberapa kebijakan untuk mendukung pertumbuhan industri pertahanan nasional. Salah satunya yang akan diusulkan adalah pembebasan bea masuk sparepart untuk industri pertahanan.

Ini dilakukan untuk memicu produksi alat pertahanan oleh perusahaan-perusahaan di dalam negeri. "Sekarang kami sedang menginventarisir komponen apa saja yang perlu diberi pembebasan bea masuk," katanya. Kementerian akan meminta agar peraturan pembebasan dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan khusus komponen pertahanan.

Rabu, 01 Juni 2011

Pindad-FNSS Jajaki Kerja Sama Produksi Tank


FNSS pernah menampilkan rancangan tank ringan dengan basis ACV dan turret BMP3 (photo : Army Recognition) 

Indonesia-Turki Jajaki Kerja Sama Produksi Tank

TEMPO Interaktif, Jakarta - Indonesia dan Turki tengah menjajaki kerja sama pembuatan tank kelas ringan(light tank). Kerja sama itu masih dijajaki di tingkat perusahaan atau produsen (business to business), sebelum meningkat pada kerja sama dua pemerintahan (G to G). Saat ini penjajakan dilakukan oleh PT Pindad dengan FNSS Defence Systems Co., produsen alat pertahanan dari Turki.

Tank ringan yang akan diproduksi bersama ini memiliki bobot sekitar 13-14 ton dan akan dilengkapi meriam kaliber 90-105 milimeter. "Tank jenis ini untuk memenuhi kebutuhan pasukan kavaleri TNI Angkatan Darat," kata Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda Susilo, kepada Tempo di kantornya, akhir pekan lalu.

Kerja sama ini merupakan tindak lanjut kesepakatan kerja sama Pemerintah RI dan Turki saat kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke negara itu, Juni tahun lalu. Kesepakatan tersebut lebih dimatangkan lagi saat Presiden Turki Abdullah Gul melakukan kunjungan balasan ke Jakarta, April 2011 lalu. "Kerja sama industri pertahanan dengan Turki saat ini sudah makin mengerucut," ujar Susilo.

Produsen dari Turki, FNSS, bahkan sudah mengirimkan prototipe tank ringan itu untuk dijajal oleh TNI AD dan PT Pindad. "Tapi, tank yang akan dibuat nanti spesifikasinya akan diajukan oleh TNI AD," kata dia."Mereka (Pindad dan FNSS) sudah menandatangani MoU (kesepakatan kerja sama)," kata dia.

Kerja sama industri pertahanan dengan Turki ini dilakukan karena negara tersebut bisa memahami kepentingan Indonesia. Seperti diketahui, saat ini pemerintah tengah menggalakkan pengembangan industri pertahanan dalam negeri. Karena itu, kerja sama industri pertahanan dengan luar negeri diprioritaskan pada negara-negara yang bisa memberikan transfer teknologi dan bersedia melakukan kerja sama produksi (joint production).

"Kalau transfer teknologinya besar dan mereka mau joint production, ini yang kami utamakan," kata Susilo. "Jadi, kami mendapatkan banyak benefit(keuntungan), tidak hanya membeli."

Tank ringan yang akan diproduksi bersama antara Indonesia dan Turki ini bakal memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang cukup besar. "Paling tidak bodinya kami (Indonesia) yang buat," kata dia.Instalasi, perakitan, dan desain juga menjadi porsi Indonesia.

Sementara engine (mesin) serta rantai tank akan dibuat oleh produsen Turki. "Untuk rantai tank, Indonesia masih belum bisa buat sendiri," ujarnya. Demikian juga mesin. Menurut Susilo, masih belum efisien jika Indonesia membuat mesin tank sendiri. "Kalau engine, masih lebih murah membeli daripada harus membangun pabrik mesin di sini."

Selasa, 31 Mei 2011

Indonesia Akan Dapat 1 Prototype Pesawat KF-X


JAKARTA - Kerjasama Indonesia-Korea Selatan dalam pengembangan industri pembuatan jet tempur terus berlanjut. Proyek yang pembagian pembiayaannya 80 persen Korea Selatan dan 20 persen Indonesia ini rencananya akan membuat lima prototipe jet tempur KF-X/IF-X, pesawat tempur multimission generasi 4,5.

"Empat prototipe untuk Korea dan satu untuk kita (Indonesia)," kata Direktur Teknologi Industri Pertahanan, Ditjen Pothan, Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Agus Suyarso, dalam Seminar Industri Pertahanan di Gedung Antara, Jakarta, Rabu (18/5).

Dengan komposisi pembiayaan total 80:20 ini, artinya pemerintah hanya menyumbang US$ 1,01 miliar atau sekitar 10,1 triliun dari total biaya sebesar US$ 5,05 miliar. Proyek ini akan berlangsung selama 10 tahun, tepatnya hingga tahun 2020. "Nanti rencananya kalau untuk trading-nya 250 pesawat, 200 untuk mereka, 50 untuk kita," kata dia.

Kerjasama pembuatan pesawat tempur ini menjadi salah satu cara Indonesia dalam rangka pengembangan alutsista untuk kebutuhan sekarang dan masa depan. Selain itu juga untuk meningkatkan kemampuan industri pertahanan dan meningkatkan kemandirian dan sistem pertahanan strategis.

Filipina Minat Menbeli 3 Kapal LPD dari PAL


JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Laut Filipina Laksamana Muda Alexander Pama mengunjungi dua kapal perang TNI AL jenis Landing Platform Dock (LPD) di Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Jakarta, Kamis (12/5).

Dalam kunjungan itu, Pama didampingi Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Marsetio dan Panglima Kolinlamil Laksamana Muda TNI Didit Herdiawan. Dua kapal perang TNI Angkatan Laut jenis LPD yang dikunjungi adalah KRI Banda Aceh-593.

Petinggi matra laut Filipina itu melihat beberapa bagian kapal seperti anjungan dan geladak serta beberapa fasilitas lain. Peninjauan Pama ke dua kapal perang jenis LPD itu, terkait rencana Filipina membeli kapal sejenis dari PT PAL

. Beberapa waktu lalu, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengemukakan, Filipina berminat membeli kapal LPD buatan PT PAL. "Filipina berminat membeli kapal buatan PT PAL jenis kapal LPD (landing platform dock) yang yang bisa didarati helikopter," katanya. Menhan menjelaskan fungsi kapal itu sangat luas. Selain dapat mengangkut pasukan, kapal ini juga dapat dioperasikan untuk penanggulangan bencana.

"Filipina akan membeli tiga unit kapal LPD," kata Purnomo menambahkan. Ia mengatakan pemerintah terus menawarkan produk industri produk pertahanan nasional ke sejumlah negara calon pembeli seperti Filipina, Brunei, Malaysia, dan Vietnam.

Jumat, 29 April 2011

Pindad Serahkan Prototipe SLT Latih Kal 64 mm


Perkembangan Alutsista militer di dunia semakin maju, berbagai produk Alutsista dibuat semakin modern sehingga efektif untuk memenangkan pertempuran. PT. Pindad (Persero) merupakan salah satu industri dalam negeri milik Pemerintah Republik Indonesia yang memproduksi bermacam senjata termasuk kendaraan tempur Panser.Keberadaan PT. Pindad (Persero) sangat potensial berkembang sepadan dengan industri negara maju apabila dapat menyerap teknologi negara maju. Litbang Pussenif sebagai Staf Danpussenif Kodiklat TNI AD mempunyai andil dalam pengembangan kualitas produk PT. Pindad agar sejajar dengan produk negara maju. Kunjungan Danpusenif Kodiklat TNI AD ke PT. Pindad (Persero). Pada hari Kamis, 7 April 2011 Danpussenif Kodiklat TNI AD dan Wadan Pussenif serta Sekretaris Pussenif, Danpusdikif, para Direktur Pussenif dan para Pamen Ahli Pussenif melakukan kunjungan kerja ke PT. Pindad (Persero) Bandung.

Sambutan Danpussenif Kodiklat TNI AD. Danpussenif Kodiklat TNI AD Mayor Jenderal TNI Siswondo, S. IP dan rombongan disambut Dirsista PT. Pindad (Persero) Bapak Ir. M. Irianto. Pada kesempatan tersebut Mayor Jenderal TNI Siswondo, S. IP dalam sambutanya mengatakan :Pussenif dan PT. Pindad mempunyai peran dalam mengembangkan kemajuan bersama. PT Pindad sebagai produsen Alutsista perlu mendapat dukungan dalam peningkatan kualitas sedangkan Pussenif adalah Induk Satuan Infanteri TNI AD. Saat ini Satuan Infanteri sebagian senjatanya diproduksi PT. Pindad (Persero).

Pemenuhan kebutuhan senjata Satuan Infanteri diharapkan mampu mewujudkan satuan yang tangguh dan modern guna mendukung pelaksanaan tugas. Sesuai amanat Presiden RI pada upacara Hari Jadi TNI ke 65 tahun 2010 disebutkan bahwa pemenuhan kebutuhan TNI diprioritaskan enggunakan produksi dalam negeri. Menyikapi amanat tersebut PT. Pindad (Persero) sebagai industri dalam negeri yang memproduksi materiil/senjata TNI AD khususnya Satuan Infanteri maka dihadapkan pada perkembangan teknologi senjata militer keberadaan PT. Pindad (Persero) adalah mitra kerja Pussenif. Kegiatan antara Pussenif dan PT. Pindad yang telah terjalin diantaranya static show senjata Infanteri produk Pindad pada event Rabiniscabif, Lomba Tembak Piala Kasad serta Apel Dansat. Kegiatan lainnya yaitu uji coba panser dan yang baru saja dilaksanakan adalah pengujian operasional senjata senapan serbu (SS2). Berkaitan hal teknis dan taktis penggunaan senjata Infanteri di lapangan atau di medan tugas, maka komunikasi antara PT. Pindad dengan Pussenif perlu dipererat guna optimalisasi kualitas produk.

Penyerahan model rancang bangun SLT Latih Kaliber 64 mm. Pada acara kunjungan kerja dilaksanakan penyerahan model senjata rancang bangun SLT latih kaliber 64 mm sebagai hasil kerjasama program Litbanghan TA. 2010 antara Litbang Pussenif dengan PT. Pindad. Pada TA. 2011 program kegiatan rancang bangun type senjata lawan tank latih merupakan kelanjutan dari rancang bangun model SLT latih.Program ini dalam rangka mendukung pembuatan sarana latihan menembak prajurit di satuan. Program rancang bangun type senjata lawan tank bermanfaat bagi prajurit karena tidak memerlukan latihan khusus dan dapat digunakan di sekitar pangkalan. 

2 Panser Anoa Dikirim ke Brunei untuk Uji Coba


Panser Anoa 6x6 buatan PT Pindad (photo : MILITER) 



Panser Anoa buatan Pindad ditaksir banyak negara

JAKARTA. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengklaim industri pertahanan dalam negeri lebih kompetitif dibandingkan dengan luar negeri. Salah satu contohnya adalah panser Anoa buatan PT Pindad.Purnomo mengatakan, banyak negara yang berminat membeli panser tersebut. Dia menyebutkan seperti Malaysia, Brunei dan Timor Leste.

Menurutnya, jika sebelumya harganya per unitnya berkisar Rp 100 miliar maka sekarang lebih murah yakni berkisar Rp 80 miliar. "Kami dulu membuat dengan mesin Renault, kini sedang bicara dengan beberapa pabrikan seperti Mercy nantinya bisa lebih murah," paparnya akhir pekan lalu.

Purnomo menyebutkan, Pindad telah mengirimkan dua Anoa untuk diuji coba di Brunei. "Mereka sedang coba dulu. Make sure dulu bahwa produk itu sesuai dengan mereka," katanya.

Selain Anoa, juga telah dikirimkan senjata serbu SS2. Purnomo menambahkan selain kedua produk itu tengah menawarkan pesawat CN 235 pabrikan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). "Juli mendatang kami akan memanfaatkan ajang Brunei Industrial Defend Expo di Brunei untuk memamerkan produk alutsista," jelasnya.

Sabtu, 09 April 2011

AU Perancis Memesan 8 CN-235




CN-235. (Foto: EADS)

2 April 2010 -- DGA (Direction Générale pour l'Armement) Perancis memesan 8 pesawat angkut militer Casa CN-235 senilai 225 juta euro (305 juta dolar) guna menjembatani terlambatnya pengiriman pesawat angkut berat A400M, diumumkan pemerintah Perancis, Kamis (1/4).

Kontrak ditandatangani Kamis (25/3), termasuk dukungan pelayanan dari EADS Casa, pesawat dijadwalkan diterima AU Perancis 2011 dan 2013.

Pesawat tersebut akan bergabung dengan 19 CN-235 yang telah dioperasikan AU Perancis. AU Perancis menggunakan C-160 Transal, C-130 Hercules dan Casa CN-235 untuk armada angkutnya.









CN-235 AU Perancis saat mengunjungi Tahiti. (Foto: flickr/PhillipC)

Pimpinan DGA Laurent Collet-Billion saat rapat kerja dengan parlemen, Rabu (24/3) mengatakan armada angkut saat ini sudah uzur hanya memenuhi 25 persen misi angkut yang direncanakan pada Buku Putih Pertahanan dan Keamanan Nasional. Sejumlah pesawat terbang lebih dari 40 tahun dan sangat mahal untuk merawatnya.

Pertimbangan utama adalah sulit menjaga kemampuan para pilot serta jam terbang dengan armada pesawat saat ini.

Casa CN-235 dikembangkan oleh Casa Spanyol dan PT. DI Indonesia, menggunakan dua mesin propeller digunakan pesawat angkut dan penerjunan kargo maupu prajurit, Pesawat mampu menempuh jarak hingga 3500 km dengan membawa 5 ton kargo atau 40 penumpang.

PT. DI mengembangkan CN-235 versi MPA (Maritime Patrol Aircraft) telah digunakan oleh TNI AU dan segera TNI AL. PT. DI sedang mengembangkan CN-235 versi anti kapal selam.

PT. DI dan KAI Produksi Bersama Jet Tempur


Jet tempur T-50B Golden Eagle melepaskan tanki bahan bakar tambahan, dimungkinkan PT. IPTN akan produksi bersama dengan KAI 200 jet tempur jenis ini. (Foto: DID)

29 Maret 2010, Bandung -- " Kita pernah mengembangkan sendiri pesawat terbang CN-235 dan N-250 untuk membuktikan bahwa SDM Indonesia mampu menguasai dan mengembangkan teknologi secanggih apa pun. Di mana itu semua sekarang?" tegas B.J. Habibie, mantan presiden RI, di depan peserta kuliah umum bertema Filsafat dan Teknologi untuk Pembangunan di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Jumat lalu (12/3).

Ya, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memang tidak bisa dibandingkan dengan ketika perusahaan itu masih bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) dan Habibie masih menjabat presiden direktur. Saat itu IPTN memiliki 16 ribu karyawan. Kompleks gedung IPTN di kawasan Jalan Pajajaran, Bandung, berdiri megah, menempati lahan seluas 83 hektare.

Yang paling laris adalah pesawat CN-235. Pesawat berkapasitas 35 sampai 40 orang itu paling banyak diorder dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, ada pesawat C-212 (kapasitas 19-24 orang). Produk chopper alias helikopter juga tak mau kalah. Ada NBO-105, NAS-332 Super Puma, NBell-412, dan sebagainya. Semua produk burung besi tersebut begitu membanggakan bangsa saat itu.

Namun, persoalan muncul saat krisis ekonomi menggebuk Indonesia pada 1998. Ketika itu, PT DI yang bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) mendapat order membuat pesawat N-250 dari luar negeri. Pesawat terbang ini berkapasitas 50 hingga 64 orang. Sebuah kapasitas ideal untuk penerbangan komersial domestik. Umumnya pesawat domestik di tanah air saat ini menggunakan pesawat dari kelas yang tak jauh berbeda dari N-250.

PT DI menerima pesanan 120 pesawat. Ongkos proyek yang disepakati USD 1,2 milliar. PT DI langsung tancap gas. Ribuan karyawan direkrut. Mesin-mesin pembuat komponen didatangkan. ''Kami berupaya keras menyelesaikan proyek itu sesuai target,'' tutur Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito saat ditemui Jawa Pos di Bandung pekan lalu.

Namun, PT DI harus menelan pil pahit. Pemulihan krisis ekonomi bersama International Monetary Fund alias IMF mengharuskan Indonesia menerima sejumlah kesepakatan. Salah satunya, Indonesia tak boleh lagi berdagang pesawat. ''Itu benar-benar memukul kami,'' kata Budiwuraskito, pria Semarang ini.

Padahal, kata Budi, PT DI telanjur merekrut banyak karyawan. Sejumlah teknologi dan peralatan sudah didatangkan. Semua siap produksi. Pesawat contoh bahkan sudah jadi, sudah bisa terbang, dan siap dijual. Tinggal menunggu proses sertifikasi penerbangan. ''Nggak tahu, mungkin ada negara yang takut tersaingi kalau Indonesia bikin pesawat,'' ujarnya mengingat sejarah kelam PT DI itu.

Bayangan menerima duit gede USD 1,2 milliar menguap. Malah, PT DI harus memikirkan cara menghidupi karyawan yang telanjur direkrut. Proyek memang batal, tapi orang-orang yang hidup dari PT DI juga tetap harus dikasih makan. ''Akhirnya, mau tidak mau, kami mem-PHK karyawan secara baik-baik,'' katanya.

Pada 2003, PT DI memutus kerja sembilan ribu lebih karyawan. Jumlah itu terus bertambah. Dari 16 ribu pekerja, PT DI hanya menyisakan tiga ribu pekerja. Baik di bagian produksi maupun manajemen. Kondisi itu semakin membuat PT DI terpuruk. Apalagi, tak ada lagi order pesawat yang datang. Roda perusahaan pun tak berjalan.

Namun, PT DI berupaya mempertahankan diri. Semua pasar yang bisa menghasilkan duit disasar. Mulai pembuatan komponen pesawat hingga industri rumah tangga seperti pembuatan sendok, garpu, dan sejenisnya. Salah satunya membuat alat pencetak panci.

''Pabrik-pabrik pembuat panci itu kan perlu alat pencetak. Biasanya mereka impor dari luar negeri. Mengapa harus impor kalau bisa kita bikinin. Dan, itu lumayan untuk membuat roda perusahaan berjalan,'' kata Budi. Tapi, urusan panci itu tak banyak membantu. Pada 2007, BUMN yang didirikan pada 26 April 1976 itu dinyatakan pailit alias bangkrut.

PT DI tak lantas almarhum. Pemerintah masih punya keinginan mengembangkannya meski modal yang diberikan tak terlalu deras. Dan, kendati sudah dinyatakan pailit, masih ada rekanan dari mancanegara yang percaya akan kualitas produk PT DI.

Salah satunya British Aerospace (BAE). PT DI mendapat order sebagai subkontrak sayap pesawat Airbus A380 dari pabrik burung besi asal Inggris itu. Juga ada order dari dua negara Timur Tengah enam pesawat jenis N-2130. Apalagi, Indonesia sudah menceraikan IMF. Artinya, PT DI sudah leluasa berdagang pesawat.

Budi menuturkan, order enam pesawat itulah yang bisa dibilang ''menyelamatkan'' PT DI saat itu. Laba dari pesanan itu digunakan sebagai modal pengembangan. Selain itu, PT DI semakin fokus menggarap pasar komponen dan bagian-bagian pesawat dengan menjadi subkontrak atau offset program. Antara lain bagian inboard outer fixed leading edge (IOFLE) dan drive rib alias ''ketiak'' sayap milik Airbus A380.

Airbus A380 adalah pesawat bikinan Airbus SAS (Prancis) yang sudah kondang di jagat dirgantara. Pesawat ini biasanya digunakan untuk penerbangan internasional lintas benua dengan muatan 500 hingga 800 penumpang. ''Kita mencoba meraih untung dengan menjadi subkontrak dari pemain besar,'' kata Budi.

Kondisi PT DI terus membaik. Dalam waktu dekat mereka akan memproduksi pesawat tempur dengan dana urunan bersama pemerintah Korea Selatan (Korsel) sebesar USD 8 milliar. Indonesia menyumbang USD 2 milliar, sedangkan pemerintah Korsel USD 6 milliar. ''Tapi, untuk Indonesia itu akan kita konversikan dalam bentuk tenaga, teknologi, dan pengembangan pesawat tersebut,'' katanya.

Kemampuannya tak jauh berbeda dengan F-16 Fightning Falcon, pesawat tempur kondang buatan Amerika Serikat yang digunakan 24 negara di dunia. Rinciannya, 200 unit untuk Korsel dan 50 untuk Indonesia. ''Proyek ini memakan waktu sampai tujuh tahun,'' kata Budi.

Selain itu, order dari Timur Tengah terus berdatangan. Sejumlah negara memesan CN-235untuk pesawat pengawas pantai, pengangkut personel militer, dan pemantau perbatasan. Dari dalam negeri, Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga memesan enam unit helikopter dan Badan SAR Nasional (Basarnas) empat unit.

Budi mengakui, tren industri dirgantara di Indonesia terus naik kendati perlahan. Paling tidak, tujuh tahun ke depan, PT DI bisa meraup laba yang lumayan dari membuat pesawat. Sebenarnya, kata Budi, keuntungan itu bisa didongkrak bila ada keberanian mencari pinjaman. Tapi, itu bakal sulit. ''Tidak banyak bank yang mau. Sebab, risikonya terlalu tinggi. Padahal, semakin tinggi risiko, janji revenue juga besar,'' kata Budi yang lulusan Teknik Penerbangan, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan menyelesaikan gelar MBA di Belanda itu.

Strategi pengembangan PT DI saat ini, kata Budi, tak bisa terlalu ekspansif. PT DI memilih berjalan perlahan dengan memanfaatkan margin keuntungan sebagai modal pengembangan. ''Begini saja, lebih aman,'' kata Budi lantas tersenyum.

Menanti Gelombang Pensiun Besar PT DI pada 2014 

Saat ini PT DI memiliki 4.200 karyawan. Tapi, jumlah itu akan turun tiap tahun. Pada 2014, badan usaha milik negara (BUMN) produsen burung besi itu hanya akan dioperasikan 300 orang. ''Yang senior banyak yang harus pensiun,'' kata Manager Corporate Communication Rakhendi Triyatna saat ditemui di kompleks PT DI di Bandung pekan lalu.

Kondisi itu tak bisa dibiarkan. Apabila, jika tidak ada penanganan, grafik perkembangan PT DI yang terus menanjak bisa terjun bebas. Mereka akan mengalami persoalan krisis tenaga kerja. ''Karena itu, secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan akan ada rekrutmen besar-besaran,'' kata Rakhendi yang juga akan pensiun dua tahun lagi.

Tahun ini 25 orang akan ditarik menjadi karyawan. Pada 2011, sebanyak 700 lebih tenaga kerja akan direkrut. Mereka yang direkrut tidak hanya dari bagian produksi, tapi juga bagian manajemen perusahaan. ''Setiap 300 orang yang direkrut terdapat 30 orang lulusan ITB (Institut Teknologi Bandung, Red),'' kata lelaki 53 tahun itu.

Hingga sekarang, kata Rakhendi, PT DI masih cukup bisa mengandalkan tenaga dari dalam negeri. Pekerja di bagian produksi umumnya adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan atau umum. Selain SMK, tenaga sarjana yang diambil kebanyakan dari Teknik Penerbangan ITB.

Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito mengatakan, karyawan yang bekerja di PT DI tak perlu susah beradaptasi. Sebab, budaya kerja PT DI sudah sangat kuat terbentuk. Mereka yang bertugas mengebor dan mengecor aluminium alloy (bahan ringan kuat pembuat bodi pesawat) dan komposit cukup mengikuti para senior. ''Dua bulan di sini kami training pasti sudah bisa,'' katanya.

Soal tenaga kerja, PT DI memang tak punya banyak masalah. Yang menjadi masalah hanyalah peralatan dan mesin untuk membuat pesawat. Peralatan yang dipakai kini masih terbatas. Bahkan, untuk meng-handle order yang terus berdatangan, peralatan tersebut sampai overload.

Menurut Budi, pesawat dibuat dalam beberapa bagian yang terpisah untuk kemudian disatukan. Biasanya, panjang setiap bagian sekitar 5 meter. Nah, mesin yang berkapasitas 5 meter itulah yang cukup terbatas. Proses produksi menjadi lama karena mesinnya terbatas. ''Harus antre,'' kata Budi, lantas tersenyum.

Selasa, 05 April 2011

Presdir Damen Schelde-Belanda Kunjungi Mabes TNI AL

JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Soeparno, menerima kunjungan Presiden Direktur perusahaan galangan kapal “Damen Schelde” Belanda Mr. Bereckfen beserta stafnya Mr. Ameiden, Senin (4/4) di Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur. Belum diperoleh keterangan maksud dan tujuan presdir Damen berkunjung ke Indonesia.

Namun kuat dugaan kunjungan kali ini untuk membicarakan kerjasama pembuatan kapal perang jenis Patroli Kawal Rudal (PKR) dengan PT PAL. Hingga kini proyek pembangunan kapal PKR masih tertunda, dimana khabar terakhir Damen-Belanda yang terpilih sebagai kontraktor diwajibkan menyertakan kredit ekspor sebesar 220 Juta US Dollar kepada Indonesia.

Kemenhan dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi I pada Februari 2011 menjelaskan bahwa proses pengerjaan PKR tengah dalam masa pembuatan kontrak, namun beberapa hal belum disepakati hingga kini.

"Prosesnya jika kontrak sudah ditandatangani, maka kita teruskan kepada Kementerian Keuangan untuk mendapatkan loan agreement. Setelah ini efektif, baru semuanya jalan Pak" ungkap sekjen Kemhan, Marsdya TNI Eris Herryanto S.Ip, M.A.


Model kapal Patroli Kawal Rudal

Dalam raker tersebut, Menhan, Purnomo Yusgiantoro juga menjelaskan bahwa prosesnya masih berjalan dan didiskusikan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dituangkan di kontrak. "Namun, keputusan yang mendapatkan kontrak ini adalah Damen. Jadi, Damen sudah mempunyai agreement dengan kita bahwa dia mau transfer teknologi dan sebagainya", ungkapnya.

Dari Damen sendiri belum ada keterangan resmi apakah kunjungan Presiden direkturnya ke Indonesia untuk menandatangani kontrak dengan PAL atau ada tujuan lain. Hadir dalam acara ini, Aspam Kasal Laksda TNI Ir. I Putu Yuliadnyana, Asops Kasal Laksda TNI Slamet Yulistiyono, Asrena Kasal Laksda TNI Among Margono, Kadissenlekal Laksma TNI Dwi Ujianto, Kadisadal Laksma TNI Suryo Djati Prabowo, dan Adnan Ganto selaku penasehat Ahli Kasal bidang Ekonomi.

Sabtu, 26 Maret 2011

Pembuatan Rudal Dilakukan Bertahap


Rudal anti kapal C-705 buatan China mempunyai jangkauan 75 km, namun dengan tambahan mesin pendorong kedua mampu melesatkan hingga mencapai 170 km (photo : ClubChina)
JAKARTA – Kerja sama pembuatan peluru kendali jenis C 705 dengan Republik Rakyat China akan dilakukan secara bertahap melalui transfer teknologi dan produksi bersama sampai nantinya Indonesia bisa mencapai kemandirian.
Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) dari China, termasuk peluru kendali jenis C 705, akan diikuti dengan tahapan transfer teknologi serta proses produksi bersama.Peluru kendali ini dipakai untuk perlengkapan persenjataan kapal perang TNI Angkatan Laut. “Di samping kita beli, kita juga harus mengantisipasi dengan joint production,” tegas Sjafrie yang ditemui di sela-sela Jakarta International Defence Dialogue (JIDD) di Jakarta kemarin. Dengan tahapan tersebut, ujarnya, dalam kurun waktu tertentu Indonesia akan mampu memasuki posisi kemandirian dalam memproduksi alutsista jenis rudal.

“Dengan transfer of technology dan joint production, kita akan bisa memasuki kemandirian. Begitulah tahapannya,”jelasnya. Tahapan yang sama, jelas Sjafrie, juga dilakukan saat akan melakukan produksi panser Anoa oleh PT Pindad. “Seperti pada proses panser Pindad. Dulu kan kita tidak bisa membuat. Makanya, kita beli, didukung oleh tim litbang untuk pengembangannya dan akhirnya kita bisa membangun. Yang sekarang masih diimpor yakni gear box dan mesinnya saja,”paparnya. Sedangkan untuk teknis pelaksanaan kerja sama, menurut Sjafrie, akan dibahas oleh pejabat setingkat direktur jenderal, baik untuk pembelian serta proses transfer teknologi serta produksi bersama. “Untuk pembelian, nantinya akan diurus oleh Badan Sarana Pertahanan dan transfer teknologinya oleh Dirjen Potensi Pertahanan,”jelasnya.

Rudal anti kapal C-802 buatan China mempunyai jangkauan 120km, tipe terbarunya C-802A mampu menjangkau sasaran 180 km (photo : ClubChina)
Sjafrie melanjutkan, kesepakatan untuk melakukan transfer teknologi dan produksi bersama peralatan militer dengan pabrik persenjataan yang ada di China merupakan salah satu butir dari nota kesepahaman yang telah ditandatangani oleh Kementerian Pertahanan Indonesia dengan Badan Negara Urusan Ilmu Pengetahuan,Teknologi, dan Industri Pertahanan Nasional Republik Rakyat China (SASTIND) di Jakarta pada Selasa (22/3). “SASTIND ini merupakan regulator peralatan-peralatan militer yang mau diekspor keluar. Dia yang mengatakan ya atau tidaknya peralatan diekspor keluar negeri. Dia yang membawahi pabrik-pabrik yang memproduksi peralatan militer,”paparnya.

Secara terpisah, peneliti alutsista PT Pindad Bandung, Wien Intarto, mengatakan, pembuatan peluru kendali memerlukan kerja sama antarindustri pertahanan. “Jadi, tidak bisa dilakukan oleh Pindad saja atau PT DI saja,”paparnya. Dia menambahkan, PT Pindad bisa disiapkan untuk memproduksi badan rudal, peluncur, mekanik, serta war head, sedangkan pengendali tetap harus diserahkan pada industri pertahanan lainnya

Indonesia-China Produksi Bersama Rudal C-802


Rudal permukaan ke permukaan/anti kapal C-802 (photo : Zhenguan)

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat China sepakat untuk meningkatkan kerja sama pertahanan termasuk produksi bersama peluru kendali.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Midhio di Jakarta Selasa mengatakan, penjajakan produksi bersama rudal itu telah dilakukan kedua pihak.

Ditemui usai menghadiri penandatangan nota kesepahaman kerja sama teknis pertahanan RI-China ia mengatakan, Indonesia telah menggunakan rudal C-802 buatan Negeri Panda itu untuk mempersenjatai beberapa kapal perangnya.

"Kedepan kita sepakat untuk memproduksi bersama rudal tersebut, yakni dengan menggandeng PT Pindad," ujarnya.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Badan Pengembangan Teknologi dan industri nasional pertahanan China, Chen Qiufa

Nota kesepahaman itu mencakup lima poin yakni pengadaan alat utama sistem persenjataan tertentu yang disepakati kedua pihak dalam kerangka "G to G".

Kedua, alih tekonologi peralatan militer tertentu yang antara lain mencakup perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, up grade dan pelatihan.

Tiga poin lainnya adalah kerja sama produk peralatan militer tertentu, pengembangan bersama peralatan militer tertentu serta pemasaran bersama dalam dan di luar negara masing-masing, kata I Wayan Midhio.(R018/S026)

Sejumlah Negara Menjajaki Kemungkinan Pembelian dengan Kredit Ekspor Persenjataan

Filipina tengah merundingkan kemungkinan pembelian tiga LPD Makassar class dari Indonesia (photo : sby591)

Kredit Ekspor Persenjataan

Jakarta, Kompas - Sejumlah negara tetangga, seperti Papua Niugini, Filipina, dan Brunei, menjajaki kemungkinan pembelian persenjataan serta memperoleh kredit ekspor dari Pemerintah Republik Indonesia.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yang ditemui di Jakarta, Kamis (24/3), menjelaskan, pihaknya telah mendapatkan banyak permintaan untuk memenuhi kebutuhan persenjataan dari sejumlah negara tetangga dalam Jakarta International Defense Dialogue (JIDD).

Timor Leste
”Timor Leste sudah mendapat kredit ekspor 40 juta dollar AS untuk pembelian dua kapal patroli cepat (fast patrol boat/FPB), ternyata sejumlah negara juga mempertanyakan kemungkinan mendapat fasilitas serupa,” ujar Purnomo.

FPB yang dibuat PT PAL Surabaya itu memiliki dimensi panjang dari 15 meter, 30 meter, 40 meter, hingga 60 meter.

Papua Niugini


Seusai pertemuan dengan delegasi Papua Niugini, negara tetangga tersebut ingin mengunjungi PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia. Mereka telah mengoperasikan sejumlah pesawat CASA-Nurtanio (CN) buatan Indonesia.


Filipina

Pemerintah Filipina menyiapkan dana 100 juta dollar AS (sekitar Rp 900 miliar) untuk membeli tiga kapal landing platform dock (LPD) bagi angkatan lautnya. ”Kita sedang merundingkan spesifikasi LPD yang sesuai dengan anggaran yang dimiliki Filipina,” kata Purnomo.

Brunei

Selain itu, lanjut Purnomo, pemerintah Brunei juga berminat untuk membeli senapan serbu varian dua (SS-V2) buatan PT Pindad. Menurut dia, Pemerintah Brunei baru menyadari Indonesia telah memproduksi senjata jenis tersebut, yang merupakan produk Indonesia yang berbasis dari senapan Fabrique Nationale Belgia. Militer Brunei juga mengoperasikan perahu karet untuk satuan taktis yang dibuat di Bogor, Jawa Barat. (ONG)

Selasa, 22 Maret 2011

Indonesia Jual 2 Kapal Patroli ke Timor Leste


Kapal patroli cepat 57m buatan PT. Pindad (photo : TNI AL)

TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan Indonesia menjual kapal patroli laut (fast patrol boat) ke Timor Leste. Kapal buatan PT PAL Indonesia ini panjangnya 30-40 meter. Timor Leste membeli dengan pertimbangan tidak perlu kapal besar dalam menjangkau teritorialnya.

"Mereka mau pesan dua kapal," kata Purnomo seusai jamuan santap siang Presiden Yudhoyono dengan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao di Istana Negara, Selasa (22/3).
Purnomo mengatakan dalam pembelian kapal itu Timor Leste mengajukan kredit ekspor kepada Indonesia. Pemerintah Indonesia pun menyanggupi dan siap memberikan kredit ekspor lewat lembaga penjamin ekspor Indonesia (LPEI). Dalam transaksi ini, Indonesia menjual kapal patroli per unitnya US$ 20 juta atau sekitar Rp 175 miliar.

Indonesia juga mendapat pesanan tiga kapal Landing Platform Dock, yang bisa didarati helikopter, dari Filipina. Kapal ini tidak hanya digunakan untuk pengangkutan pasukan tetapi juga untuk operasi penanggulangan bencana. Pembelian ini melalui fasilitas kredit penandatanganan pemerintah dengan pemerintah. "Tapi, sekarang belum," ujarnya.

Selain membeli kapal, Filipina juga akan membeli senjata dari PT Pindad. Brunei Darussalam juga memberi senjata dari PT Pindad.

Indonesia, kata Purnomo, juga menawarkan pesawat CN-235 kepada Filipina, Brunei, dan Vietnam. "Beberapa sudah kita kirimkan, Korea pun akan membeli CN-235," katanya.

Pemerintah juga menawarkan amunisi, senjata SS dan panser Anoa."Malaysia telah memesan Anoa," katanya.

Pemerintah berharap industri pertahanan berjalan dengan baik. "Ini tahapnya masih incorporated untuk mendorong terus membaik. Jadi targetnya belumestablish," ujarnya.

Indonesia - China Produksi Bersama Rudal C-802



JAKARTA - Pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat China sepakat untuk meningkatkan kerja sama pertahanan termasuk produksi bersama rudal.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Midhio di Jakarta Selasa (22/3) mengatakan, penjajakan produksi bersama rudal itu telah dilakukan kedua pihak.

Ditemui usai menghadiri penandatangan nota kesepahaman kerja sama teknis pertahanan RI-China ia mengatakan, Indonesia telah menggunakan rudal anti kapal C-802 buatan China itu untuk mempersenjatai beberapa kapal perangnya.

"Kedepan kita sepakat untuk memproduksi bersama rudal tersebut, yakni dengan menggandeng PT Pindad," ujarnya.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Badan Pengembangan Teknologi dan industri nasional pertahanan China, Chen Qiufa.

Nota kesepahaman itu mencakup lima poin yakni pengadaan alutsista tertentu yang disepakati kedua pihak dalam kerangka "G to G".

Kedua, alih tekonologi peralatan militer tertentu yang antara lain mencakup perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, up grade dan pelatihan.

Tiga poin lainnya adalah kerja sama produk peralatan militer tertentu, pengembangan bersama peralatan militer tertentu serta pemasaran bersama dalam dan di luar negara masing-masing, kata I Wayan Midhio.

Senin, 21 Maret 2011

Menhan : Pengadaan Kapal Selam Perlu Pertimbangan Matang

 SURABAYA - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan bahwa pengadaan kapal selam untuk memperkuat armada TNI Angkatan Laut tidak perlu dilakukan dengan terburu-buru.

"Mengadakan dan membangun kapal selam tidak perlu `grusa-grusu` (terburu-buru). Perlu pertimbangan yang matang," kata Menhan usai meresmikan KRI Banda Aceh-593 di Divisi General Engineering PT Pal Indonesia, Surabaya, Senin (21/3).

Pernyataan tersebut menjawab pertanyaan wartawan mengenai kepastian pemerintah melakukan pengadaan kapal selam guna memperkuat armada TNI-AL.

Menhan menjelaskan bahwa pengadaan kapal selam harus disesuaikan dengan kondisi geografis, terutama perairan laut di Indonesia dengan mempertimbangkan dua basis kekuatan TNI-AL di wilayah barat dan wilayah timur.

"Perairan di wilayah barat termasuk laut dangkal, sedangkan di wilayah timur tergolong laut dalam. Ini yang menjadi pertimbangan kami," katanya di atas geladak helikopter KRI Banda Aceh.

Ia optimistis PT Pal mampu membangun kapal selam. "Saat ini kita sudah menyaksikan semua bahwa Pal mampu membangun kapal jenis LPD. Oleh karena itu, kami yakin Pal mampu membangun kapal selam, meskipun secara bertahap, baik melalui `joint production` maupun `joint operation," katanya.


Model kapal Patroli Kawal Rudal (PKR) yang akan dibuat PAL & Damen

Pemerintah telah menetapkan bahwa pada 2014, kekuatan pokok sistem pertahanan nasional harus terpenuhi. "Sekarang ini memang belum. Tapi, kami sedang menuju ke sana," katanya.

Saat ini Pal sedang menjalani proses menuju pembangunan kapal jenis Perusak Kawal Rudal (PKR) bekerja sama dengan galangan kapal asal Belanda, "Damen Schelde Naval Shipbuilding". "Kerja sama ini lebih menguntungkan bangsa Indonesia karena nantinya proses pembangunannya di sini," kata Dirut PT Pal Indonesia, Harsusanto, dalam acara tersebut.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menambahkan bahwa pembangunan PKR lebih rumit karena kapal tersebut tidak saja mampu melakukan pertempuran di permukaan, tetapi juga harus mampu melakukan pertempuran anti kapal selam. "Oleh karena itu kami mendukung upaya PT Pal agar PKR bisa dibangun di sini," kata mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) itu.

Serah Terima Kapal LPD KRI Banda Aceh-593

 SURABAYA - Menhankam Purnomo Yusgiantoro (tengah) didampingi Menteri BUMN Mustafa Abubakar (kanan) dan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono (kiri) berada diatas deck KRI Banda Aceh-593 saat serah terima di PT PAL Surabaya, Jatim, Senin (21/3). KRI Banda Aceh merupakan kapal keempat jenis Landing Platform Deck (LPD) yang mempunyai LPD 125 meter dengan daya angkut 344 personel, tiga unit helikopter jenis Mi-2/Bel 412 di deck dan dua dihangar, dua unit LCVP, tiga unit howitzer dan 21 tank merupakan produksi PT PAL Indonesia untuk memperkuat armada laut TNI AL. FOTO ANTARA/M Risyal Hidayat/Koz/Spt/11

LPD KRI Banda Aceh-593 Akan Segera Diserah Terimakan


KRI Banjarmasin-592, Kapal sekelas dengan KRI Banda Aceh-593

JAKARTA - PT PAL Indonesia Senin (21/3) akan menyerah-terimakan kapal perang TNI AL jenis Landing Platform Dock (LPD) 125 meter. Seperti dikutip dari rilis yang diterima Bisnis, serah terima kapal LPD keempat pesanan Kementerian Pertahanan RI ini akan dijadwalkan diserahkan di dermaga Divisi Rekayasa Umum PAL Indonesia di Surabaya.

Serah terima dilakukan secara berantai dari PT PAL kepada Daewoo International Corporation sebagai main contractor kemudian diserahkan Daewoo kepada Kementerian Pertahanan.

Usai serah terima, kapal bernomor W000240 dengan lambung ganda(double bottom) dilengkapi bow thruster (pemecah gelombang) akan berganti nama menjadi KRI Banda Aceh-593 lengkap dengan komandan baru bagi 125 awak kapal.

Kapal telah menjalani uji coba layer untuk menjajal stabilitas, kecepatan hingga uji fungsi seluruh sistem. Pada uji coba tersebut, kecepatan kapal melampaui target 15 knots.

Kapal LPD ini merupakan kapal kedua dari dua kapal yang dipesan Kementerian Pertahanan berdasarkan alih teknologi Daewoo-Korea kepada PAL Indonesia, dimana kapal pertama (KRI Banjarmasin-592) telah diserahkan tahun lalu.

Total LPD 125 meter yang dipesan Kementerian Pertahanan berjumlah empat kapal, dua dibangun di Daewoo Korea Selatan, 2 sisanya dibangun PAL Indonesia.

Kapal LPD dirancang untuk mampu dipersenjatai oleh meriam 100mm dan dilengkapi ruang Combat Information Center untuk sistem kendali senjata yang memungkinkan kapal mampu melaksanakan pembelaan diri dengan komunikasi kapal ke kapal combatan untuk melindungi pendaratan dan pergelaran pasukan serta kendaraan tempur. Dan juga untuk pengendalian pendaratan helikopter.

Minggu, 20 Maret 2011

KRI Teluk Bayur-502 Akhiri Masa Tugas


KRI Teluk Bayur 502 jenis Landing Ship Tank (photo : TNI AL)

JAKARTA (Pos Kota) – Salah satu unsur kapal perang TNI AL, KRI Teluk Bayur-502 direncanakan akan mengakhiri tugas sebagai Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) ditandai dengan upacara penurunan ular-ular perang yang direncanakan Jumat (18/3) pagi besok di dermaga TNI AL Surabaya
Kapal perang produksi Amerika Serikat tahun 1942 tersebut , telah memperkuat TNI AL sejak tanggal 17 Juni 1961. Dan Selama penugasan telah banyak menorehkan catatan sejarah mulai dari penugasan dalam operasi penegakkan kedaulatan RI dan berbagai latihan serta bantuan angkutan untuk pembangunan di daerah seluruh wilayah NKRI.

KRI Teluk Bayur-502 jenis Landhing Ship Tank (LST) , pertama kalinya jabatan Komandan KRI dijabat oleh Mayor laut (P) Handayana Sukendar . Kapal perang ini masuk memperkuat unsur jajaran Komando Lintas laut Militer pada tahun 1975 , dan sehari-hari dibawah pembinaan Satuan Lintas laut Militer (Satlinlamil ) Surabaya.
Kapal-kapal LST yang sudah tua digantikan dengan kapal LPD dan LST 117 meter yang akan diproduksi oleh PT. PAL (photo : Allair-Kaskus Militer)

Kapal perang dengan spesifikasi panjang 99,89 meter dan lebar 15,25 meter saat masih aktif mampu menempuh kecepatan 8 knot memiliki dengan kemampuan angkut 17 tank di dek kapal dan pasukan sampai dengan 800 personel dengan perlengkapan lapangan.


Dalam berbagai penugasan selama ini,KRI Teluk Bayur-502 telah mengemban berbagai penugasan operasi militer perang (OMP) dan operasi militer selain perang (OMSP) ke berbagai wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Penugasan tersebut diantaranya ikut dalam operasi angkutan pergeseran pasukan ke Timor–Timur dan berbagai penugasan operas lainnya ke Wilayah Indonesia.

Selain itu dalam kegiatan pembangunan pernah ditugaskan untuk mengangkut alat-alat berat Departemen Pekerjaan Umum ke beberapa daerah dan mengangkut berbagai kebutuhan pertanian untuk pemukiman transmigrasi serta kegitan bantuan sosial lainnya ke beberapa pulau di Indonesia.

Setelah bertugas hampir mencapai 50 tahun memperkuat jajaran TNI AL, direncanakan pada hari jumat ini dilaksanakan Upacara penurunan Ular-ular perang di dermaga Pangkalan TNI AL di Surabaya.

Upacara penurunan ular-ular perang merupakan simbol kapal perang yang harus berkibar di tiang gafel, sebagai salah satu tanda dari Kapal Perang Republik Indonesia. Selain penurunasn ular-ular perang merupakan suatu peristiwa simbolik yang menandakan berakhirnya perjalanan sejarah pengabdian suatu KRI sebagai unsur kekuatan TNI AL.

Kolinlamil sampai saat ini masih diperkuat beberapa unsur kapal perang sejenis yang mendekati masa pengabdian sampai dengan 50 tahun, diantaranya Teluk Langsa-501, KRI Teluk Kau-504 dan Teluk Tomini-508. Kapal perang tersebut saat ini dalam tahap konservasi, dan tidak dilibatkan dalam kegiatan operasi.